Menjadi Sobat Budaya, Cara Seru Mengenalkan Budaya Indonesia pada Anak

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana cara mengenalkan anak dengan berbagai budaya lokal di Indonesia?

Suatu hari di masa SMA, guru sejarah saya meminta anak satu kelas untuk mengunjungi berbagai situs dan monumen yang ada di sekitar Sidoarjo. Iya, mengunjungi, tidak sekadar mencarinya di internet. Tugas yang dikerjakan satu kelas kecil tersebut memang diawali dengan meminta bantuan Google, setidaknya untuk mendata tempat-tempat yang bisa dikunjungi. Selain beberapa monumen yang biasa anak-anak lalui saat pulang sekolah, kami pun cukup terkejut mengetahui bahwa Sidoarjo pun memiliki peninggalan sejarah berupa prasasti.

Kami pun mulai menyisir satu per satu peninggalan sejarah yang ada di Sidoarjo, dan bertukar informasi dengan teman-teman yang melakukan perjalanan ke arah yang berbeda. Saya termasuk anggota tim yang mencari keberadaan prasasti tersebut. Ternyata, Google pun kesulitan memberikan informasi yang akurat, sehingga warga di sekitar lokasi menjadi sumber informasi kami yang paling akurat. Butuh waktu seharian agar kami dapat mencapai lokasi prasasti yang dimaksud. Mencari jejak budaya ternyata tidak semudah yang diperkirakan, namun ada kepuasan saat bisa melihat langsung dan bertanya kepada narasumber utama yang memahami peninggalan sejarah tersebut.

bakat anak budaya indonesia

 

“Jasmerah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” semboyan ini dijunjung tinggi oleh semua pecinta sejarah di tanah air. Tentu saja, agar sejarah dan berbagai peninggalan budaya di Indonesia tidak dilupakan, kita harus mengenal dan menjaga, mengabadikannya. Baik itu berupa produk makanan, seni rupa, lagu daerah, obat-obatan tradisional, sampai peninggalan budaya yang berupa artefak. Kalau mengajak anak ke museum saja kita malas, bagaimana

Pernahkah anak Ayah Ibu mencoba membunyikan gamelan, alat musik tradisional yang memiliki suara yang unik? Gamelan Jawa, setidaknya, memiliki laras yang khas, yang disebut pelog dan slendro, dengan urutan tinggi nada yang berbeda dengan do-re-mi. Saat sebagian masyarakat Indonesia kurang antusias dengan gamelan, Hiroki Kikuta, komposer game Secret of Mana yang dirilis pada 1993, memperkenalkan gamelan dan tari kecak dalam salah satu lagu yang digubahnya. Ini diakuinya dalam sebuah wawancara di Reddit bulan Februari 2014.

“Bagaimana saya mengenalkan anak saya budaya lokal di sekitar, apabila saya tidak mengetahuinya juga?” Hal ini memang sering menjadi kendala orangtua yang ingin mengenalkan anaknya tentang berbagai peninggalan budaya Indonesia. Sebagian masyarakat Indonesia semakin awam dengan budaya lokal di sekitarnya, dan baru bersuara apabila peninggalan budaya tersebut diklaim oleh negara lain. Misalnya, anak lebih tertarik dengan budaya negara lain (katakanlah, Jepang), bukan karena budaya mereka lebih unggul, namun karena mereka lebih sering terpapar dengan budaya tersebut ketimbang budaya Indonesia.

Sulitnya mendapatkan informasi seputar peninggalan budaya di sekitar kita pun diakui oleh Hokky Situngkir, seorang peneliti teori kompleksitas sekaligus pendiri Bandung Fe Institute. Kecintaannya pada budaya Indonesia, sekaligus kesadarannya bahwa beragamnya budaya kita memiliki kerentanan untuk punah apabila tak dilestarikan, membuat Hokky Situngkir memutuskan untuk menggagas sebuah upaya dokumentasi digital. Upaya yang kemudian bernama Perpustakaan Digital Budaya Indonesia ini dibuat sedemikian rupa agar setiap orang dapat mendokumentasikan berbagai peninggalan budaya di sekitarnya dan mengunggahnya, agar orang lain pun dapat membacanya. Dirintis sebagai Gerakan Sejuta Data Budaya, kegiatan yang bersifat partisipatif ini juga bisa dilakukan oleh Ayah Ibu bersama anak, lho!

Dalam wahana daring (online) Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, Ayah Ibu bersama anak bisa membuat sebuah akun, menjadi Sobat Budaya, dan mengunggah hasil pencarian jejak budaya di lingkungan sekitar anak. Terdapat berbagai kategori budaya seperti alat musik, cerita rakyat, makanan minuman, motif kain, dan sebagainya yang bisa dipilih bersama untuk ditelusuri. Atau, Ayah Ibu bersama anak bisa memulai pencarian jejak dengan mencari data budaya berdasarkan propinsi di mana keluarga Ayah Ibu tinggal.

Anak tidak harus langsung menambahkan data baru, namun dapat memulai mencari jejak budaya Indonesia dengan bertemu langsung dengan peninggalan budaya yang ada di daerah ia tinggal, terutama yang belum ia pernah temui. Sehingga, anak tak hanya sekadar membacanya di Perpustakaan Digital Budaya Indonesia, namun dapat melihat, memegang, dan mencoba peninggalan budaya tersebut dengan panca inderanya. Siapa tahu, anak bisa mengembangkan bakatnya dengan memanfaatkan berbagai budaya lokal di sekitarnya!

Apa situs maupun peninggalan budaya lokal yang dijumpai oleh keluarga Ayah Ibu terakhir kali?

 

Foto oleh Riza Nugraha

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d