Common Sense Media: Mendampingi Anak Memilih Film, Buku, Aplikasi dan Game

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apakah Ayah Ibu selama ini memperhatikan apa yang ditonton dan dimainkan anak?

Zaman kreatif tak hanya mengizinkan orangtua untuk mengakses berbagai media, tetapi juga anak-anak. Kalau dulu televisi kerap kali menghiasi ruang keluarga, sekarang sebagian anak justru sudah memiliki gawai (gadget) sendiri. Kala orangtua sibuk dengan pekerjaan (atau gawainya) sendiri, tanpa kita sadari anak punya akses yang sangat luas dengan persegi panjang tipis yang ada di tangannya.

Dan saat anak mencontoh perilaku negatif (dan kita selalu menyoroti perilaku negatifnya saja) dari apa yang ditonton dan dimainkannya, orangtua lebih cenderung menyalahkan medianya. Tetapi kita jarang sekali bertanya pada diri sendiri, “Seberapa sering saya mendampingi anak menikmati hiburan?”

Terdapat dua ketidaktepatan yang sering dilakukan sebagian orangtua yang seringkali antipati dengan berbagai media hiburan, baik itu televisi, game, maupun internet. Pertama, beberapa orangtua menganggap media hiburan menyebabkan anak kecanduan, tanpa menawarkan kegiatan alternatif pada anak. Saat anak tak pernah tahu kegiatan lain yang sama menariknya, atau lebih menarik daripada menonton kartun, anak pasti akan terus menonton kartun. Kedua, orangtua membiarkan anak menikmati media hiburan apapun tanpa pedoman tertentu yang telah disepakati oleh orangtua dan anak. Kita mungkin menuduh serial Naruto menyuguhkan berbagai adegan kekerasan pada anak SD, padahal serial tersebut sebenarnya ditujukan untuk remaja.

Dua ketidaktepatan tersebut membuat banyak orangtua melarang anak mengakses berbagai media hiburan, tanpa menyediakan alternatif yang sama kayanya sebagai sumber belajar anak. Lalu apa tindakan yang bisa kita ambil sebagai orangtua?

bakat anak mendampingi anak

 

Common Sense Media sendiri mengakui bahwa media hiburan saat ini – termasuk televisi, game, dan internet – menjadi pusat tata surya kehidupan kita, termasuk anak-anak. Mereka mencatat bahwa anak-anak menghabiskan waktu sekitar 50 jam lebih di depan layar – yang menurut saya, sama seperti orangtua mereka – selama seminggu. Dan meskipun orangtua tetap memiliki kewajiban menyediakan berbagai alternatif kegiatan, kita tidak perlu benar-benar memisahkan media hiburan dari jangkauan anak-anak.

Yang orangtua butuhkan adalah panduan untuk memilih informasi yang bermakna, di antara jutaan informasi yang dapat membuat anak terombang-ambing di dalamnya. Dan sebagai wahana daring (online) yang bermuatan positif, Common Sense Media sebagai lembaga non-profit independen terus berupaya mengembangkan panduan tersebut, bersama para orangtua, guru, dan para penentu kebijakan.

Secara sederhana, Common Sense Media memberikan ulasan baik film, acara televisi, buku, game, aplikasi, musik, dan situs yang bisa (atau kurang bisa) menjadi sumber belajar anak yang bermakna.

Tiga prinsip yang diusung Common Sense Media bisa menjadi alasan mengapa Ayah Ibu dapat memanfaatkannya dalam memilih hiburan sekaligus sumber belajar yang bermakna buat anak. Pertama, sama seperti yang telah saya utarakan, Common Sense Media lebih percaya pada kesadaran bahwa pemilihan media hiburan yang tepat – ketimbang melarangnya sama sekali – bisa menjadi penguatan bagi pembelajaran, bahkan pengembangan bakat anak.

Kedua, dalam upaya tersebut, mereka memberikan ulasan apa adanya, secara objektif, sekaligus bermakna, agar orangtua dapat menawarkan berbagai opsi hiburan yang sesuai dengan usia anak. Ketiga, Common Sense Media melibatkan ulasan langsung dari penikmat media hiburan – baik orangtua maupun anak – agar informasinya lebih berimbang.

Bagaimanapun juga, meskipun diulas secara mendetil – termasuk membedah konten sebuah film maupun menilai kualitas pengalaman belajar dari bermain suatu game – Common Sense Media bersikap sebagai panduan yang umum agar anak dapat menikmati media hiburan sebagai sumber dan pengalaman belajar yang tepat sesuai usianya. Namun sekali lagi, pesan awalnya adalah untuk mengingatkan para orangtua untuk selalu mendampingi anak dalam menonton TV, mengakses dunia maya, maupun bermain game.

Mendampingi anak bukan sekadar menemani anak secara fisik saat anak menikmati hiburan, namun juga mengobrol dengan anak tentang apa yang baru saja disimaknya. Membenahi dua ketidaktepatan sikap orangtua di atas, tentu saja harus dilakukan dengan berbagai upaya. Setidaknya, pertama, jadikan anak teman diskusi tentang bagaimana memilih dan memanfaatkan berbagai media hiburan sebagai pengalaman belajar yang menarik – dan beri kepercayaan pada anak bahwa anak juga mampu memilih. Kedua, jangan lupa tawarkan pada anak alternatif kegiatan yang sama asyiknya dengan menatap layar kaca.

Apa pertanyaan yang Ayah Ibu ajukan setelah anak menikmati hiburan agar anak menyadari pengalaman belajarnya?

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye