Mengapa Anak perlu Belajar Menilai Diri Sendiri?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Kunci belajar mandiri ialah saat anak menilai diri sendiri, termasuk proses belajarnya.

Kita sudah melihat bagaimana eksperimen self-directed learning yang dilakukan Nick Bain membuatnya merasakan berbagai dampak positif dari belajar mandiri. Mulai dari kemampuan mengendalikan proses belajar sendiri, tumbuhnya gemar belajar, hingga membuat belajar jadi kian bermakna. Dalam eksperimen yang dilakukan oleh sang remaja, ia menuliskan tentang kegiatannya dalam buku harian. Inilah salah satu cara anak menilai diri sendiri, sebagai sebuah upaya belajar mandiri.

Mengapa anak perlu belajar menilai diri sendiri? Kan biasanya ia sudah mendapat nilai di sekolah, dari tugas dan ujian yang dikerjakannya?

Tentu saja, kegiatan menilai diri sendiri bisa jadi berbeda dengan nilai yang anak peroleh dengan belajar di sekolah. Menilai diri sendiri, secara garis besar tidak berfokus pada angka (meskipun kita bisa menggunakannya), seperti yang digunakan untuk menandai hasil belajar anak. Lalu apa bedanya?

bakat anak menilai diri sendiri

Seperti dikutip Bukik Setiawan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong, John Holt mengungkapkan bahwa lebih penting memahami bagaimana cara anak belajar ketimbang memahami apa yang sudah dan belum dipelajari anak. Nilai yang diberikan kepada hasil belajar anak di sekolah biasanya menyatakan ukuran penguasaan anak pada suatu bidang; bahwa anak Anda sudah mampu menguasai materi A namun penguasaan materi B masih lemah.

Sebaliknya, memahami bagaimana cara anak belajar adalah bentuk menilai diri sendiri. Anak tidak hanya tahu apa yang sudah maupun belum dipahami, namun lebih lanjut, menyadari mengapa ia kesulitan memahami topik tertentu, tetapi dengan mudah memahami topik lainnya. Sekolah belum tentu mencapai tataran ini, karena cara paling mudah menjawab pertanyaan ‘mengapa’ ini adalah dengan bertanya pada anak.

Sebagai subjek pembelajaran, anaklah yang paling tahu tentang proses belajarnya, seperti kisah Damai tentang perjalanan menulis di blog. Itulah sebabnya, dalam upaya mendorong anak menumbuhkan belajar mandiri, membekali anak dengan kemampuan menilai diri sendiri merupakan hal penting. Mengapa? Dalam belajar mandiri, anak tak lagi mendapatkan ‘pengukuran’ hanya dari orang dewasa, meskipun ia tetap bisa meminta masukan baik dari orangtua, guru, maupun pelatihnya.

Anak belajar untuk mengamati diri sendiri yang sedang belajar, melihat perkembangan kemampuannya dalam menekuni suatu bidang bakat – bahkan termasuk memikirkan apakah, misalnya, anak Anda benar-benar suka bermain piano dan ingin berkomitmen untuk belajar di bidang tersebut. Saat anak mampu menilai diri sendiri, Ayah Ibu tidak lagi – dan memang tak seharusnya – menjadi orang yang menentukan bidang apa yang sebaiknya ditekuni anak, dan ke mana arah karier mereka.

Dalam salah satu catatan Nick Bain, kebebasan mengatur waktu belajar karena ia boleh belajar di luar kelas justru menjadi tantangan tersendiri baginya. Transisi dari rutinitas sekolah menuju proses belajar yang dipimpinnya sendiri, membuat ia cukup kewalahan, tetapi sekaligus membuat Nick Bain belajar mengelola waktu belajar yang paling sesuai dengan dirinya. Ini merupakan contoh bagaimana anak belajar menilai diri sendiri, dan berkembang dari penilaiannya tersebut.

Nah, bagaimana Ayah Ibu dapat membantu anak menilai diri sendiri? Salah satu ide yang bisa Ayah Ibu gunakan dan diskusikan bersama anak adalah perangkat penilaian diri yang dikembangkan oleh Lori Lesautels, asisten profesor di School of Education, Marian University. Lori Lesautels menyediakan perangkat penilaian diri tersebut dalam bentuk tabel untuk diisi, namun Ayah Ibu bisa menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang disediakan untuk membantu anak berefleksi, dalam upaya belajar mandiri.

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah perilakuku sudah mencerminkan apa yang ingin aku capai?“, “Apa tiga sumber pengetahuan yang sudah aku temukan untuk membantuku mencapai target belajar?“, atau “Apakah aku sudah mencatat refleksiku untuk memantau perkembangan belajarku?” dapat Ayah Ibu ajukan kepada anak saat mendiskusikan baik proses belajar maupun perkembangan bakatnya.

Seberapa ampuh pertanyaan-pertanyaan yang saya contohkah di atas, dan mengapa kita perlu mendiskusikannya bersama anak? Saya akan mengulas lebih jauh berbagai pertanyaan keren yang bisa kita ajukan untuk membantu anak menilai diri mereka di artikel berikutnya. Simak terus, ya!

Kapan terakhir kali Ayah Ibu mengajak anak berefleksi tentang proses pengembangan bakatnya?

 

Foto oleh Emran Kassim

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d