Mengenang Pak Raden, Maestro Dongeng Kebanggaan Kita

Diposting oleh:

Bakat Anak – Siapa yang merindukan ciptaan Pak Raden, yakni Si Unyil?

Baru saja Pak Raden meninggalkan kita semua. Beliau yang selama ini mengidap pengapuran pada kakinya, pada hari Jumat, 30 Oktober 2015 lalu meninggal setelah terjadi infeksi pada paru-paru kanannya. Saya percaya, Ayah Ibu pasti memiliki ingatan baik tentang pria yang bernama asli Suyadi ini, terutama atas karyanya, Si Unyil. Apa saja yang perlu kita kenang tentang sosok Pak Raden, maestro dongeng kebanggaan kita ini?

bakat anak mengenang pak raden maestro dongeng

Si Unyil dan kecintaan Pak Raden pada anak-anak

Dalam sebuah dokumenter, Pak Raden berkisah bahwa ia hidup di tiga zaman dan menemui generasi anak Indonesia yang berbeda-beda. Ya, pria kelahiran 28 November 1932 ini memang sangat menyukai anak-anak. Kecintaannya tersebut berawal dari kegemaran sekaligus akses untuk menonton berbagai film Walt Disney saat masih muda, seperti dilansir oleh Kompas.

Suyadi tak tanggung-tanggung belajar; pasca menyelesaikan studi di Jurusan Seni Rupa ITB, beliau melanglang buana ke Perancis demi belajar animasi. Bekal, kegemaran, serta kecintaannya pada dunia anak, akhirnya membuat Pak Raden menghasilkan karya terkenalnya di era 80-an: serial TV Si Unyil. Siapa coba yang tak tahu Si Unyil, hiburan yang selalu dinanti di hari Minggu?

Si Unyil mendapatkan perlakuan spesial dari Suyadi. Beliau membuat model boneka, menjadi pengarah visual, pula menciptakan dua karakter antagonis yang mendapat tempat tersendiri di hati generasi anak-anak saat itu: Pak Ogah, dan tentu saja, Pak Raden. Sosok feodal, pelit, sekaligus pemarah yang diisi suaranya oleh Suyadi, kemudian dicitrakan dan diperankan dalam dunia nyata oleh dirinya sendiri, lengkap dengan blangkon, kumis tebal, dan tongkat kayunya.

Kembali merawat bakat dan arah karier di usia senja

Saat sebagian besar orang mengenal Suyadi sebagai kreator serial Si Unyil, beliau sebenarnya memiliki beragam kemampuan yang mumpuni sebagai seorang seniman. Penelusuran BBC Indonesia mengungkapkan bahwa di masa kecilnya, anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini sudah suka menggambar, baik di tanah maupun tembok rumahnya.

Perhelatannya ke Perancis meninggalkan banyak kenangan, yang tertoreh dalam berlembar-lembar sketsa gambar yang dibuatnya. Saat Prasodjo Chusnato menemukan lembaran-lembaran tersebut di kontrakan Pak Raden, ia meminta izin untuk menjadikannya sebuah bundel koleksi, namun oleh sang empunya, sketsa-sketsa tersebut dianggap sebagai anak tiri yang tidak bakal laku. Namun pada akhirnya sketsa-sketsa tersebut mendapat izin untuk restorasi dan ditampilkan di Bentara Budaya Jakarta di akhir April 2013.

Tantangan Suyadi lainnya adalah tidak hanya mengandalkan Si Unyil, terutama saat serial tersebut berakhir. Banyak orang mendorong beliau untuk kembali berkarya dengan bakat yang ditekuninya, yakni menggambar dan melukis. Suyadi akhirnya kembali mengadakan pameran lukisannya pada tahun 2012, setelah sempat absen selama tujuh tahun. Akhirnya, beliau semakin berani tampil dan bersentuhan dengan dunia anak-anak, baik dengan mendongeng dengan boneka, membuat sketsa sembari bercerita, dan berbagai pertunjukan seni lainnya.

Pesan dan kenangan

Salah satu pesan terkuat yang ditinggalkan Pak Raden, dititipkan dalam wawancara khusus dengan wartawan BBC Indonesia, Heyder Affan. Seperti dikutip dari BBC Indonesia, dalam merenungi perjalanan kariernya sebagai maestro dongeng sekaligus perupa, beliau menuturkan, “Orang itu kalau berkarya harus dimulai dengan cinta. Dengan cinta, apapun bisa terjadi, apapun bisa kita capai.” Inilah yang melandasi kiprah Suyadi dalam dunia anak Indonesia selama bertahun-tahun.

Tidak hanya itu, dalam dokumenter yang dapat Ayah Ibu saksikan di atas, Suyadi memiliki sebuah pesan untuk para orangtua Indonesia. Beliau menyampaikan, “Anak-anak Indonesia itu harus kreatif, dan satu… mereka harus gembira. Anak Indonesia harus bahagia.” Mendongeng, menggambar, dan membuat sketsa, agaknya menjadi cara Pak Raden untuk membuat anak-anak Indonesia bahagia, di kala beliau yang tidak menikah dan memiliki anak sampai akhir hayatnya.

Bagaimana dengan Ayah Ibu? Apa cara Ayah Ibu untuk membuat anak Anda bahagia?

 

Apa kenangan yang paling Ayah Ibu ingat tentang sosok Pak Raden?

 

Foto dicuplik dari video YouTube terkait

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye