Menumbuhkan Anak Bahagia di Hari Kesehatan Mental Sedunia

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana menumbuhkan anak-anak yang bahagia?

Hari ini, tanggal 10 Oktober, kita memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia. Pada peringatan hari kesehatan mental kali ini, tema yang diangkat World Health Organization atau WHO adalah seputar menghargai martabat manusia, termasuk salah satunya, menghargai anak. Bagaimana Hari Kesehatan Mental Sedunia bisa menjadi pengingat agar kita selalu berusaha menghargai anak sebagai manusia yang utuh?

Apakah definisi martabat itu sendiri? WHO menjelaskannya sebagai:

Nilai-nilai yang melekat pada diri seseorang yang berkaitan erat dengan penghargaan, pengakuan, harga diri, dan kesempatan untuk memilih.

Ya, kesehatan mental tidak hanya berkutat pada mereka yang memiliki gangguan psikologis, namun secara umum perlu dimiliki untuk hidup bahagia. Siapa coba, yang tidak ingin hidup bahagia? Itulah sebabnya, kebahagiaan tidak hanya diperoleh dari materi secara fisik juga, melainkan secara psikologis. Artinya apa? Pemenuhan kebutuhan agar anak tumbuh bahagia bukan hanya perkara fasilitas saja.

Menghargai Martabat Anak

Sebuah suku di pedalaman Afrika Selatan, yakni suku Xhosa, memiliki sebuah lagu daerah dengan lirik “Omdala uhlonipha omnane, nomncane uhlonipha omdala”. Jika diterjemahkan, kira-kira artinya adalah “Yang tua menghargai yang muda, yang muda menghargai yang tua.” Seringkali kita sebagai orangtua kerap menuntut penghargaan dan penghormatan dari anak, namun melupakan bahwa anak-anak pun butuh hal yang sama dari orangtuanya.

Dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia, salah satu hal yang disoroti WHO dalam upaya menghargai martabat anak adalah memberikan kesempatan bagi anak untuk memiliki otonomi dan determinasi diri. Bukik Setiawan menjelaskannya dalam bahasa yang lebih ramah di telinga kita:

Ya, otonomi berbicara soal bagaimana anak belajar mandiri, sedangkan determinasi diri adalah kesempatan anak untuk berpikir merdeka, otentik sesuai keunikan masing-masing pribadi. Daniel Pink dalam buku Drive: The Surprising Truth about What Motivates Us secara khusus membahas kemandirian sebagai nilai yang tak terkira untuk ditumbuhkan dalam diri anak. Anak yang belajar mandiri tidak lagi belajar karena iming-iming hadiah maupun ancaman hukuman. Mereka belajar atas kemauan sendiri, memilih topik dan cara belajar terbaik bagi diri mereka.

Determinasi diri memiliki kaitan yang sangat erat dengan kemandirian. Bahkan dalam teorinya, yang dicetuskan oleh Edward Deci dan Richard Ryan, kemandirian atau otonomi merupakan salah satu dari tiga aspek determinasi diri. Anak yang berpikir merdeka berarti memiliki kesempatan untuk tumbuh menjadi seseorang – yakni dirinya sendiri – sesuai bakat dan minat yang dikembangkannya.

Menumbuhkan Anak Bahagia

bakat anak hari kesehatan mental sedunia

Hari Kesehatan Mental Sedunia sepantasnya menjadi momen reflektif bagi para orangtua untuk melihat kembali seberapa jauh anak-anak kita tumbuh dengan bahagia. Anak yang tumbuh bahagia bukan berarti tidak mengakui kesedihan yang pernah dialami, maupun tidak berkesempatan untuk belajar hal baru di luar zona nyaman mereka.

Anak bahagia dimulai saat mereka belajar mengakui apapun identitas dan keunikan mereka, dan menggunakan hal tersebut untuk berkarya dan berbagi kebaikan. Kondisi ini dimungkinkan saat Ayah Ibu juga mau mengakui dan menerima keistimewaan anak.

Keunikan anak, yang salah satunya dicerminkan oleh bakat mereka, perlu kita terima dan apresiasi sebagai upaya menghargai martabat anak. Dan tentu saja, bakat anak sangat beragam, bisa terkait maupun tidak terkait dengan proses pembelajaran mereka di sekolah. Kita tidak bisa memaksa anak untuk menekuni suatu bakat yang menurut kita memiliki prospek bagus, padahal tidak menarik sama sekali buat anak. Anak punya ketertarikannya sendiri, sebagaimana pula dengan orangtuanya.

Saat anak dan orangtua sama-sama mengakui keunikan diri anak, dan bekerja sama untuk mengembangkannya, niscaya anak lebih mudah belajar mandiri dan berpikir merdeka. Ini berarti, jalan lebih terbuka lebar untuk melihat anak-anak kita tumbuh dengan bahagia. Semoga Hari Kesehatan Mental Sedunia bisa jadi pengingat yang baik buat kita semua.

Jadi, apa yang paling membuat anak Anda bahagia?

 

Bagaimana pengembangan bakat anak bisa menumbuhkan kebahagiaan anak?

 

Foto oleh Habibah Agianda

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye