PAUD, Tempat Bermain atau Tempat Belajar?

Diposting oleh:

Banyak PAUD menuntut belajar pada anak yang masih berada pada fase bermain. Sebenarnya, PAUD itu tempat bermain atau tempat belajar? Mari kita cari tahu 

Taman yang paling indah, hanya taman kami
Taman yang paling indah, hanya taman kami
Tempat bermain, berteman banyak.
Itulah taman kami taman kanak-kanak

Ada yang masih ingat lagu “kebangsaan” Taman Kanak-Kanak tersebut? Saya suka banget lagu itu. Sederhana tapi dalam maknanya.  Lagu yang pesannya bahwa Taman Kanak-Kanak adalah tempat bermain. 

“Lho bu Imelda, jadul amat, itu dulu. PAUD sekarang beda!  Ini jaman milenial. Perubahan serba cepat. Apalagi, kan kita tahu pentingnya peranan belajar di masa usia dini, jadi ya harus digas pol”

Wah! Menarik ini. Apa sebenarnya peran PAUD? Mari kita pelajari

Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) memang sedang marak dan menggurita dengan berbagai aliran dan praktik yang berbeda-beda. Namun, yang paling mudah ditemui justru lembaga prasekolah yang menafsirkab belajar pada PAUD sebagai kawah penggodokan kemampuan akademik. Lembaga PAUD menjadi lembaga belajar.

Dari pengalaman pribadi ketika mencari sekolah untuk anak saya, bahkan ada lembaga prasekolah yang memberikan PR (Pekerjaan Rumah) kepada murid usia 2 tahun! Ketika ditanya, alasannya: agar di rumah anak belajar, tidak hanya main-main saja. Saya ngeri membayangkan nasib murid-muridnya.

Belajar belum dipandang sebagai integrasi dari proses dan interaksi anak dengan lingkungan dalam keseharian konteks sosialnya. Saya khawatir dengan pola pikir tersebut, PAUD bukannya memberdayakan potensi masa sensitif belajar, justru menciptakan manusia-manusia murung karena masa kecil yang kurang bahagia! Namun, apakah berarti di PAUD tidak boleh belajar?

Konsep Belajar di Usia Dini

Periode usia dini yang umum kita kenal yaitu rentang usia 0-6 tahun memang merupakan masa yang sensitif belajar. Peran PAUD adalah memberikan stimulasi sesuai tugas perkembangan agar menjadi dasar kesiapan (belajar) akademis sekolah dasar. Misalnya:

  • Untuk bisa duduk mendengarkan guru: perlu tubuh yang terlatih agar dapat duduk stabil dan nyaman.
  • Untuk bisa mengikuti rutinitas kelas: perlu dilatih regulasi dan mengelola diri secara mandiri.
  • Untuk membuat karya seni dan prakarya: perlu ketrampilan keluwesan jari jemari dan keterampilan berpikir, mau buat apa, bagaimana caranya, apa langkah-langkahnya.

PAUD adalah langkah awal memulai proses pembangunan, bukan ngebut mempercepat pembangunan. Sayangnya, riset jangka panjang tentang dampak positif PAUD pada masa depan anak (misal Perry Preschool Study, laporan lengkap dapat dibaca di www.nieer.org) yang lebih sering dikutip adalah hasilnya, bukan proses belajarnya. Padahal dampak positif PAUD sangat tergantung bagaimana proses belajar yang dilakukan di PAUD.

Menjawab pertanyaan di atas, penting untuk dicamkan dalam hati sanubari, kalau perlu dengan tinta emas, bahwa belajar di masa usia dini penting, namun penyelenggaraannya haruslah sesuai dengan prinsip tumbuh kembang anak dan kebutuhan anak. Jika tidak, anak bisa gagal. Bagaikan atlit yang belum lagi mulai berlatih sudah disuruh ikut lomba marathon.

Bermain sebagai cara belajar anak

Saya ajak Anda menyimak sebuah film dokumenter keluaran tahun 2010 karya sutradara Perancis Thomas Balmes berjudul “Babies”. Film yang menunjukkan perjalanan tumbuh kembang beberapa bayi dari latar budaya, keluarga dan negara yang berbeda. Film ini menyiratkan sesuatu yang universal tentang tumbuh kembang yaitu anak sebagai pelajar yang aktif dan giat bereksplorasi atas lingkungannya.

Bermain memberi kesempatan pada anak untuk belajar. Anak menjadi pelajar yang aktif, menjadi pemilik dan pemimpin aktif kegiatan. Misalnya bermain konstruksi atau main pura-pura. Saat anak menemukan setumpuk ranting lalu menyusunnya menjadi sebentuk bangunan, kemudian temannya datang bergabung, terjadi diskusi dan kemudian ranting-ranting disusun berubah menjadi kereta api, kemudian berbagi peran siapa yang menjadi masinis.

Pada kegiatan tersebut, kita melihat kekayaan belajar; kreativitas, dan imajinasi seorang anak. Anak mendapat kesempatan mengaplikasikan konsep dan pengalaman-pengalaman belajar sebelumnya secara mandiri. Terjadinya hubungan antar konsep dari pengalaman belajar sebelumnya (tentang bentuk kereta, bentuk ranting, konsep transportasi dsb) adalah proses kunci yang menyatukan sehingga jaringan antar konsep menjadi kokoh dan aktif di otak. Hasilnya, pengetahuan dan konsep tersebut kuat, “nyantol” alias tidak mudah terlupakan.

Dari segi aspek perkembangan, saat bermain telah terjadi stimulasi yang menyatukan keseluruh aspek: perkembangan fisik (menjumput ranting, mempertahankan posisi agar stabil dan tenang saat menyusun ranting), emosional (mengekspresikan diri, merasa mampu, percaya diri mampu membuat suatu karya), sosial (bermain bersama) dan kognitif (berdiskusi, bermain peran). Bermain ibarat sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau belajar terlampaui. Paket Komplit!

Di sisi lain, kita perlu memahami bahwa anak usia dini punya kondisi dasar untuk mampu belajar, misalnya rasa aman dan nyaman (12 Principles of Child Development and Learning, www.naeyc.org). Saat bermain, anak bebas untuk mengekspresikan diri menurut penafsiran dirinya tanpa takut dinilai. Dalam kondisi yang nyaman, gembira dan rileks saat bermain, bagian otak yang bernama limbik (“otak emosi”) terbuka, mengantar informasi dan pengalaman menuju bagian otak neocorteks (“otak kognitif”) sehingga mampu menalar dengan baik (Teori Triune of Brain, Paul MacLean and the Triune Brain, www.science.sciencemag.org).

Bila belajar pada anak usia dini adalah melalui bermain, maka PAUD sepatutnya menjadi tempat bermain bagi anak. Penting bagi guru PAUD untuk memastikan proses bermain yang memberi kesempatan pada anak untuk belajar secara mandiri. Bermain yang kaya kesempatan belajar.

Jadi bagaimana wujud PAUD sebagai tempat bermain yang memfasilitasi anak bermain yang kaya pengalaman belajar? Melalui buku “Panduan Memilih Sekolah Untuk Anak Zaman Now”, kami hadirkan tuntunan nyata memilih lembaga PAUD yang menumbuhkan kemauan dan kemampuan belajar anak.. Tersedia alat bantu bagi anda untuk mendeteksi tanda-tanda prasekolah yang menganut belajar melalui bermain. Segera pesan, hanya bisa melalui agen-agen di kota Anda atau melalui MemilihSekolah.com. Ayo bergegas jangan sampai kehabisan!


panduan memilih sekolah untuk anak zaman now

Leave a Reply

Buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now
 icon
 icon
rss
doytchmagient : menarik. di sklh gw, bnyk anak yg gila bersaing. knp gw sbt gila? krn saking sukanya bersaing, mrk smpe ga lg
Rusj : Wow...trimakasih sudah sharing. Experience seperti ini sangat dibutuhkan didaerah2 terpencil seperti di papua.
Ida Tungga : Bagaimana cara mendapatkan buku Belajar dari Ki Hadjar?