Meski Miskin, Anak 14 Tahun ini Menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Diposting oleh:

Kemiskinan dan kelaparan tidak menghentikan anak usia 14 tahun ini menciptakan pembangkit listrik tenaga angin yang menerangi desanya. Namanya, William Kamkwamba. 

Pembangkit listrik adalah istilah yang tidak pernah saya bayangkan ketika membeli buku “Bocah Penjinak Angin”. Saya belikan buku itu buat anak saya, Ayunda Damai. Setelah Damai menulis ulasan berjudul Buku Bocah Penjinak Angin di blognya, saya baru menyadari makna dari judul buku tersebut. Damai mengajari saya tentang makna penjinak angin yang berarti pembangkit listrik tenaga angin.

Dalam buku itu diceritakan kisah seorang anak bernama William Kamkwamba yang hidup ditengah kemiskinan dan baru saja melewati bencana kelaparan akibat musim kering yang berkepanjangan. Meski selamat dari kematian akibat bencana kelaparan, William Kamkwamba terpaksa putus sekolah karena panen jagung ayahnya mengalami gagal panen.

William sebagaimana anak-anak pada umumnya, penuh rasa ingin tahu yang mendorongnya bertanya tentang cara kerja berbagai alat yang dilihatnya. Orangtua maupun orang desa yang ditanyai seringkali tidak bisa menjawab pertanyaannya.

Ketika putus sekolah, ia berusaha keras untuk mendapatkan pendidikan. Ia pun sering berkunjung ke perpustakaan desa untuk membaca berbagai macam buku. Buku yang suka dibacanya adalah buku ilmu pengetahuan khususnya fisika. Sepertinya minat pada jenis buku itu sesuai dengan rasa ingin tahu yang dirasakannya sejak kecil.

William Kamkwamba pembangkit listrik tenaga angin

Menariknya, meski tidak tahu bahasa Inggris, William tetap berusaha keras membaca buku yang menarik minatnya. Ia fokus pada diagram dan gambar yang ada di buku yang dibacanya. Pola serupa terjadi juga di anak-anak desa di India Selatan yang saya tulis di buku Anak Bukan Kertas Kosong. Rasa ingin tahu anak-anak adalah sumber energi tidak terbatas untuk belajar. Jadi saya sering heran bila ada pendidik yang mengeluh anak benci belajar atau malas belajar. (Dengarkan di sini atau lihat posternya di sini)

William tertarik dengan sebuah buku yang berjudul Using Energy. Buku tersebut menyatakan bahwa kincir angin dapat memompa air dan menjadi pembangkit listrik. Memompa air berarti irigasi, sebuah senjata melawan musim kering. Pembangkit listrik berarti cahaya lampu yang membuatnya bisa membaca buku sampai malam hari. Ia pun bertekad membuat kincir anginnya sendiri.

William tidak punya peralatan untuk membuat kincir angin. Ia pergi ke tempat rongsokan untuk mencari peralatan yang bisa digunakan. Banyak orang desa yang menganggapnya orang gila. William tidak peduli. Ia terus membangun kincir angin. Satu kincir angin tercipta dan bisa berfungsi sebagai pembangkit listrik.

Aku mencengkeram buluh dan kabel, menunggu datangnya keajaiban. Akhirnya saat itu tiba, awalnya hanya terlihat sepercik cahaya yang berpijar di tanganku, kemudian muncul sebuah gelombang cahaya yang megah. Orang-orang di bawah terkesiap, anak-anak saling dorong agar dapat melihat lebih jelas.

Awalnya pembangkit listrik itu hanya bisa menyalakan satu lampu, kemudian 4 lampu hingga aliran listrik bisa diputus dengan saklar. Satu kincir angin lagi berfungsi untuk menjalankan irigasi.

Kabar tentang kincir angin yang bisa menjadi pembangkit listrik membuat orang-orang desa datang ke rumahnya. Para jurnalis pun berdatangan ke rumahnya. Sebuah rubrik di media nasional yang mengulas usahanya menarik perhatian seorang blogger. Tulisan di blog itu akhirnya dibaca oleh  Emeka Okafor yang sedang menjabat sebagai  direktur program TEDGlobal 2007. Okafor pun mengundang William untuk berbagi pengalamannya membuat pembangkit listri di TED Global 2007 di Tanzania. William tampil kembali di TED Global 2009 yang videonya bisa anda saksikan di bawah ini.

Setelah presentasinya tersebut, nama William Kamkwamba terkenal di seluruh dunia. Ia mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah dan kuliahnya. Meski telah kuliah, William tetap tertarik terjun di bidang energi. Saat ini, ia telah mempunyai sebuah inisiatif sosial yang bernama Moving Windmills. Dari sebuah bencana, menjadi sebuah inspirasi, proses belajar dan karya yang bermanfaat buat desa dan bangsanya.

William Kamkwamba merupakan contoh dari siklus gemar belajar yang saya tulis di buku Bakat Bukan Takdir. Awal belajar, Ia penuh rasa ingin tahu. Ia mendapat kemerdekaan belajar dengan membaca buku yang diminatinya. Ia mengalami pengalaman seru belajar dengan memilih tantangan yang sesuai minat dan kemampuannya. Pada akhirnya, hasil karyanya mendapat apresiasi dari orangtua dan masyarakat yang membuat William mendapatkan kebermaknaan belajar.

William Kamkwamba juga contoh siklus perkembangan belajar yang menarik. Sebagaimana saya ulas di buku Bakat Bukan Takdir, anak usia 13 tahun sudah melewati fase Belajar Mendalam dengan capaian berupa hasil karya yang sesuai potensinya dan bermanfaat buat masyarakatnya. William mencipta karya kincir angin yang menjadi pembangkit listrik dan penggerak irigasi. Kincir angin sesuai dengan minatnya pada cara berbagai alat bekerja, sekaligus memberi penerangan dan pengairan buat masyarakat desanya.

Pada sejumlah kecil sekolah yang selaras dengan pendidikan menumbuhkan, siswa-siswanya mendapat kesempatan mengerjakan proyek dan mempresentasikan hasil proyeknya pada masyarakat. Tapi banyak anak yang tidak beruntung untuk mencipta karya dan mempresentasikan hasil karyanya. Itulah salah satu alasan, mengapa kami menggagas gerakan Suara Anak, sebagai sebuah forum bagi anak berbagi pengalaman menekuni bakat atau kegemarannya. Anda bisa menyaksikan video presentasi Suara Anak dengan klik di Facebook TemanTakita.com atau klik Youtube TemanTakita.com

 

Sumber Foto: Flickr

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

One thought on “Meski Miskin, Anak 14 Tahun ini Menciptakan Pembangkit Listrik Tenaga Angin”

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye