Belajar Pendidikan Anak dari Film How to Train Your Dragon

Diposting oleh:

Buat saya, film How To Train Your Dragon itu menarik. Bukan tentang cara melatih naga, tapi justru tentang pendidikan anak. Kok bisa?

Sebagian besar orang pasti sudah nonton film How to Train Your Dragon di bioskop, tapi saya baru nonton barusan di sebuah tv kabel. Haha telat banget ya? Buat saya film ini menarik. How To Train Your Dragon tidak menceritakan tentang cara melatih atau memelihara naga, tapi justru poinnya adalah bagaimana melakukan pendidikan anak.

Lho kok bisa? Ini poinnya menurut saya..

Tokoh utama di film ini, Hiccup, anak dari Stoick yang menjadi ketua suku Viking Berk, dianggap ‘salah’ sejak lahir. Sifatnya yang canggung dan badannya yang kurus, dinilai tidak mewarisi gen ayahnya sebagai Viking terkuat dan paling berani. Stigma ini menempel hingga remaja, akibatnya Hiccup tidak pernah dilatih menghadapi naga dan tidak diajak berperang.

Hiccup berusaha menunjukkan pada suku Viking Berk bahwa dia bisa melawan naga, berlari dan menghunus pedang saat naga menyerang kampungnya.. tapi gagal.. tidak ada yang percaya dia mampu, bahkan ayahnya pun tidak percaya.

Hiccup punya kebiasaan menarik, dia suka mencatat, menggambar, mendesain dan menciptakan alat berdasarkan ‘riset’nya. Itulah cara Hiccup belajar. Dia senang melakukannya. Hal yang tidak pernah diperhatikan ayah dan penduduk Viking Berk, karena satu-satunya kemampuan bertahan hidup yang dianggap penting dan wajib adalah melawan naga.

Cerita kemudian berbalik, saat Hiccup bertemu dengan seekor naga yang terluka ekornya. Hiccup merawatnya, mendesain ekor buatan untuk si naga,dan melatihnya terbang. Dari naga itu, Hiccup belajar cara menghadapi naga seperti naga takut belut, pingsan saat digelitik dagunya, alergi pada rumput dan lain sebagainya. Hal-hal kecil tentang naga yang tidak pernah diketahui suku Viking Berk.

Hasil belajarnya itu yang digunakan Hiccup ketika akhirnya diberi kesempatan berlatih melawan naga. Sejak itu Hiccup selalu terlihat ‘mahir’ melawan naga saat latihan dan bahkan menjadi yang terbaik dalam pelatihan melawan naga. Ayahnya menjadi bangga bukan main. Sang ayah mendorong Hiccup mengikuti kontes ‘membunuh naga’ pertamanya.

Tapi apa yang terjadi saat kontes, Hiccup menolak bertarung melawan naga. Hiccup tidak senang. Ia ingin menunjukkan pada suku Viking Berk bahwa naga harus diperlakukan dengan baik. Ayahnya marah dan mengatakan malu memiliki anak seperti Hiccup.

pendidikan anak how to train your dragon bakat anak 2

Ayahnya yang sangat marah, memutuskan menyerang sarang naga, yang berisi ribuan ekor naga dan seekor naga raksasa. Situasi pun menjadi kacau. Saat situasi genting, Hiccup datang menyelamatkan ayahnya dan pasukan Viking Berk yang sudah dalam posisi terdesak. Saat itulah ayahnya menyadari bahwa pendapatnya salah selama ini. Salah menganggap Hiccup lemah. Salah menganggap Hiccup tak berbakat.

Apa poin pendidikan anak yang saya pelajari dari film How To Train Your Dragon?

  1. Kadang orang tua (dan lingkungan) terlalu dini memberi stigma pada anak, anak dianggap nakal, anak dianggap malas belajar, dan sebagainya.
  2. Kadang orang tua menganggap anak malas belajar, sebenarnya anak bukan malas tapi punya ‘cara belajar’ sendiri yang disukai
  3. Anak bisa belajar dari mana saja, bukan hanya lembaga formal semacam ‘pelatihan melawan naga’, tapi juga teman dan lingkungan
  4. Anak lebih banyak belajar bukan saat ‘menelan’ pengajaran, tapi justru saat mencoba menghasilkan karya (ingat proses saat Hiccup membuat ekor buatan)
  5. Saat anak dianggap unggul di suatu bidang, sebagian orang tua menganggap perlu untuk mengikutkannya dalam sebuah kontes/perlombaan yang belum tentu disukai anak
  6. Anak seharusnya didorong untuk menekuni bakat uniknya, bukan kemampuan generik (yang dianggap penting saat itu) sekedar untuk bertahan hidup di ‘bursa kerja’
  7. Tidak semua orang tua, seberuntung ayah Hiccup, masih punya momen menyadari kekeliruannya sebelum terlambat, kebanyakan baru menyesal saat anaknya tumbuh besar dan tidak menjadi apa-apa

Jadi ayo selaraskan cara didik kita, dengan cara belajar anak.. minta pendapatnya, dengarkan, dan bicarakan, karena ‪#‎BakatBukanTakdir‬.

*Penulis adalah Agen Buku TemanTakita.com untuk daerah Jakarta – Bekasi dan sekitarnya.

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss