Kapan Anak dapat Menentukan Arah Karier? Inspirasi Kisah Penerjemah Cilik

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apakah anak Ayah Ibu gemar membaca buku berbahasa asing?

Sekali waktu saya tertarik menjadi penerjemah. Alasannya tentu saja sederhana, agar berbagai karya dapat dinikmati lebih banyak orang. Tidak melulu buku, kegiatan menerjemahkan – dibayar maupun tidak – sudah banyak digeluti orang, meskipun profesi ini bagi sebagian besar orang kurang terdengar ‘wah’.

Kalau Ayah Ibu maupun anak suka menonton serial berbahasa asing, baik yang menggunakan subtitle maupun dubbing, semuanya membutuhkan penerjemah. Beberapa orang maupun instansi menyediakan jasa alih bahasa profesional. Saya mengenal di antaranya Alain Dellepiane dan Playism. Di Indonesia, Ayah Ibu mungkin akrab dengan nama N.H. Dini, yang pernah menerjemahkan novel “Sampar” karya Albert Camus ke dalam bahasa Indonesia.

Namun saya tidak menyangka bahwa ada seorang remaja yang sejak berumur 10 tahun sudah diberi kepercayaan menerjemahkan berbagai buku anak maupun dewasa. Gadis bernama Fairuza Hanun Razak ini menikmati kegiatan menerjemahkan buku, yang memanfaatkan kemampuan berbahasa Inggris yang telah lama dilatihnya.

bakat anak penerjemah cilik

Hanun (kemeja jeans) dan kawan-kawannya

Gadis yang fasih berbahasa Inggris ini mengaku bahwa kemampuannya tersebut berkembang karena kebiasaan di rumah. Sejak berusia dua tahun, ia sudah terpapar tayangan anak berbahasa Inggris melalui TV kabel. Keseharian gadis yang akrab disapa Hanun di rumah juga diliputi nuansa berbahasa Inggris, baik melalui percakapan maupun bacaan yang dilahapnya.

Sang ibu melibatkan anaknya dalam kursus bahasa Inggris sejak umur lima tahun. Kemampuan berbahasa Inggrisnya memang semakin terasah, namun titik awal Hanun menggunakan kemampuannya dalam bidang bakat yang spesifik adalah saat ia berkesempatan membuat transkrip wawancara berbahasa Inggris. Sang Tante, Sofie Beatrix yang telah lama berkecimpung di dunia tulis-menulis, sedang menyiapkan sebuah buku biografi bersama Sam Brodie, seorang bintang acara “Big Brother”, dan membutuhkan data yang disarikan dari wawancara tersebut. Harun mengiyakan tawaran untuk membantu tantenya.

Alhasil, ia kemudian mendapatkan banyak tawaran menerjemahkan buku, baik untuk anak-anak maupun umum, termasuk menjadi proofreader sebuah buku anak dwibahasa, Indonesia dan Inggris. Hanun pun akhirnya menjajal membuat karya berbahasa Inggrisnya sendiri; ia memulainya dengan menulis sebuah semacam ensiklopedi mini tentang kucing lokal berbahasa Inggris. Namun idenya tersebut ditolak oleh sebuah penerbit.

Kecewa? Tidak. Hambatan justru tidak membuat Hanun menyerah, dan akhirnya ia pun menemukan penerbit lain yang mau meluncurkan karyanya. Ia bahkan baru-baru saja menerbitkan sebuah novel berbahasa Inggris dengan latar sekolah robotika dengan judul “Eros”. Bersamaan dengan itu, ia meluncurkan sebuah antologi cerpen bersama kelima temannya dengan payung judul “Hexagon”. Cerpennya yang berjudul “Lucky” ditulis dalam bahasa Inggris dan menceritakan persahabatan seorang gadis dengan seekor anjing super. Dan meskipun seringkali nama Hanun tak dicatut dalam buku terjemahan yang ia garap, ia menikmati meniti karier menggunakan kemampuan berbahasa Inggrisnya.

Bagaimana kalau saja Hanun saat itu menolak kesempatan yang ditawarkan tantenya untuk membuat transkrip wawancara? Mungkin ia akan mendapatkan kesempatan lain, tetapi bisa jadi hari ini ia belum terjun sama sekali ke dalam dunia kepenulisan. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Bukik Setiawan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong, faktor pribadi – yakni bagaimana anak mengembangkan bakatnya – dan kesempatan menjadi kunci anak menentukan arah kariernya.

Saat Hanun menerima tawaran untuk mengerjakan transkrip wawancaranya, ia menunjukkan hasil belajar berbahasa Inggris sekaligus berkesempatan mengenal dunia penerjemahan, ekosistem bakatnya. Ia akhirnya mengetahui apa saja yang dikerjakan sang tante, berikut tanggung jawab yang kemudian ia pikul sebagai penerjemah.

Ayah Ibu dapat memandu anak memilih kesempatan untuk menampilkan hasil belajar mereka, agar mereka dapat bersinggungan dengan ekosistem yang sesuai bidang bakat anak. Jadi tak sekadar berlomba atau melibatkan anak dalam magang, anak dapat dipandu untuk menemukan pengalaman baru, teman-teman yang sebidang, guru, maupun tren yang sedang berkembang.

Hanun mungkin telah merumuskan arah kariernya pada usia belasan tahun, namun jangan khawatir, tidak ada patokan usia tertentu saat anak harus menentukan arah kariernya, dan arah karier pun bisa berubah. Menentukan arah karier bukanlah kontes siapa cepat, namun bagaimana bakat anak dapat digunakan dan dihargai suatu ekosistem bakat yang tepat. Berapapun waktunya tetaplah baik.

Apa tips Ayah Ibu mencarikan ajang yang tepat untuk menampilkan hasil belajar anak?

 

Dokumentasi dicuplik dari sini

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye