Alternatif Penilaian Belajar Anak, Pesan dari Suara Anak Ketujuh Surabaya

Diposting oleh:

Bentuk penilaian belajar akan menentukan arah proses dan perilaku belajar anak. Itulah pentingnya Suara Anak sebagai alternatif penilaian belajar anak. 

Suara Anak digelar kembali di Surabaya, tepatnya di Gedung Merah Putih, Balai Pemuda. Acara yang dihelat pada Minggu, 31 Juli 2016 ini merupakan Suara Anak yang Ketujuh sekaligus Suara Anak pertama yang menghadirkan 3 kategori yaitu Kegemaran, Karya dan Misi Sosial. Sekitar 80 pengunjung menikmati presentasi 7 orang anak dengan segala macam keunikan mereka mulai pukul 10.00 – 12.00 WIB. Suara Anak yang diselenggarakan sebagai bagian dari Pesta Anak Suroboyo Berani ini dipandu oleh Nindia Nurmayasari, Koordinator Suara Anak Surabaya dan Maria Mursid dari Suara Surabaya.

***

Pada saat pembukaan, saya menceritakan tentang seorang orangtua yang bertanya di Facebook tentang Suara Anak. Setelah mendapat penjelasan, orangtua tersebut memberi komentar menarik “Oooo jadi kita hanya mendengar anak-anak presentansi”. Mengapa muncul komentar tersebut? Dugaan saya, kebiasaan mendengar Suara Anak belum terbangun di masyarakat luas.Dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah maupun sekolah, porsi orang dewasa bicara dan didengarkan jauh lebih banyak dibandingkan porsi anak bicara dan didengarkan.

Seminar atau kegiatan yang keren itu harus menghadirkan orang dewasa, bukan anak-anak, sebagai narasumber. “Belajar apa dari anak-anak?” mungkin yang terlintas di benak banyak orang. Padahal untuk mendidik anak, pendidik harus memahami anak, dan jalan untuk memahami anak adalah mendengarkan Suara Anak. Terlebih anak-anak yang telah berjuang melawan rasa malas dan bosan untuk tekun pada kegemarannya, tekun berkarya dan tekun menjalankan misi sosial. Singkatnya, belajar tentang anak-anak dimulai dengan mendengarkan Suara Anak.

Suara Anak adalah suatu upaya menciptakan perubahan cara kita dalam melakukan penilaian belajar anak. Penilaian belajar berupa pilihan ganda dan terbatas pada aspek kognitif sudah tidak memadai lagi. Zaman kreatif mengundang kita melakukan penilaian belajar yang memungkinkan anak-anak tampil percaya diri sebagai dirinya sendiri. Anak diajak menyadari dirinya, pengalaman dan tantangan yang dihadapi serta cara yang digunakan untuk menghadapinya.

Penilaian belajar sudah sepantasnya melalui serangkaian tahapan sesuai tahap Pengembangan Bakat Anak. Kategori Kegemaran Suara Anak memberi kerangka bahwa anak usia 6 – 9 tahun sudah seharusnya mendapat kesempatan untuk menemukan satu atau lebih kegemaran. Kategori Karya Suara Anak memberi kerangka bahwa anak usia 10 – 15 tahun pada dasarnya sudah mampu berkarya sesuai jati dirinya. Kategori Misi Sosial Suara Anak menunjukkan keyakinan bahwa anak usia 13 – 18 tahun telah mampu berkontribusi dan memberi manfaat pada lingkungan sekitarnya. Tahapan tersebut mengacu pada Tahap Perkembangan Bakat Anak yang diulas di buku Bakat Bukan Takdir.

Lebih dari itu, Suara Anak memberi kesempatan pada anak untuk belajar dan menyadari ketekunannya selama ini dihargai oleh masyarakat luas. Proses belajar tersebut tampak dari perkembangan kemampuan anak-anak dalam presentasi mulai dari proses coaching, gladi bersih hingga tampil di Suara Anak. Anak-anak jadi mengingat kembali pengalaman belajar mereka. Upaya mengingat yang menguatkan jejaring ingatan yang telah mereka bangun sebelumnya. Mereka yang awalnya bingung dan grogi berubah menjadi yakin dan percaya diri.

***

Suara Anak Ketujuh dibuka dengan presentasi dari Steven Gusti Hutama yang bercerita tentang kegemarannya berjualan. Ia memulai kegemarannya ketika menemui banyak mainan yang tidak terpakai di rumahnya. Dari kesulitan itu muncul solusi menawarkan mainan itu pada orang lain dan sukses karena ada orang yang membelinya. Dari pengalaman berjualan, Steven menemukan berbagai tips agar jualannya laku dibeli orang.

1 Suara Anak Ketujuh Penilaian Belajar Steven

Setelah bermain drum pada saat pembukaan, Bara Matahari Pagi menjadi presentan kedua yang bercerita tentang kegemarannya bermain drum. Kesukaannya itu berasal dari stimulasi orangtua yang mengajak anaknya menyaksikan berbagai konser musik jazz. Stimulasi berbeda dengan mendikte, tujuannya sebatas menghadirkan suatu kondisi ke hadapan anak. Anak tetap mempunyai rentang kemerdekaan untuk memilih kegemaran yang ingin dipelajarinya.

2 Suara Anak Ketujuh Penilaian Belajar Bara

Penampilan ketiga, Fairly Namora Arziki yang bercerita tentang kegemarannya menggambar. Bermula dari menggambar, ia tambahkan dengan menulis dan pada akhirnya dengan prakarya pembatas buku. Ia lepas dari batasan bahwa kegemaran harus satu. Pada akhir sesi, ia mengingatkan bahwa jangan takut menggambar karena setiap gambar itu unik. Sebuah pesan yang penting bagi banyak orangtua yang kecanduan mengirim anaknya mengikuti lomba menggambar.

3 Suara Anak Ketujuh Penilaian Belajar Fairly

Presentasi keempat dibawakan oleh Naufal Syahdawi Riady yang akrab dipanggil Syahdan. Ia bercerita tentang misi sosial yang disebut WIZ Shop yang dirintisnya sejak lulus SMP dua tahun yang lalu. WIS Shop mengumpulkan barang-barang bekas seperti pakaian, perlengkapan rumah tangga, mainan anak, sepatu, buku dan apa saja yang bisa dijual. Hasil penjualan itu digunakan untuk memberi seragam sekolah buat anak-anak Jember yang membutuhkan. Bukan beli baru, seragam sekolah itu dibuat oleh 7 penjahit desa. Jadi sekali kayuh, sejumlah barang bekas jadi berguna, 7 penjahit desa mendapat tambahan penghasilan dan 80 anak-anak mendapat seragam sekolah.

4 Suara Anak Ketujuh Penilaian Belajar Naufal

Berikutnya tampil Clara Angelina P, yang pada awal proses coaching bersikap malu tapi bercerita lancar pada saat hari pelaksaan. Ia bercerita tentang kegemarannya menggambar sejak kecil hingga membawanya untuk menekuni Manga. Angel, nama panggilannya, menampilkan gambar hasil karyanya sejak ia kecil hingga saat ini, yang menunjukkan perkembangan kemampuan menggambarnya. Ia mengakui peran ibunya, selalu mengingatkan untuk menyelesaikan sebuah gambar yang telah dimulai dan memasang hasil karyanya di seluruh bagian rumah. Karya Angel bisa dilihat di Instagram @Hime_0506.

5 Suara Anak Ketujuh Penilaian Belajar Angel

Presentan keenam adalah Brians Tjipto Meidianto, seorang anak yang telah berkarya berupa origami dan buku panduan origami. Ia telah mengubah kegemaran menjadi karya yang bermanfaat buat orang lain. Dari kegemaran melipat kertas, ia bisa melihat sisi-sisi di mana kegemaran itu bisa menjalankan misi yang lebih luas, seperti Origami untuk mengenalkan batik dan media permainan kreatif anak-anak. Brians telah mengadakan kelas workshop origami baik buat anak-anak maupun guru TK. Karya-karya Brians bisa ditemui di Facebook Origamine.

6 Suara Anak Ketujuh Penilaian Belajar Brians

Presentan terakhir, Aryo Seno Bagaskoro, yang menceritakan pengalamannya membangun gerakan pelajar di Surabaya. Ia bercerita pengalamannya melakukan kampanye anti narkoba dengan media interkatif dari sekolah ke sekolah. Media sosial digunakannya untuk menggalang aspirasi pelajar Surabaya yang berhasil mengumpulkan ribuan surat dari pelajar Surabaya untuk presiden. Saat ini, ia tengah mengajak para pelajar untuk berpikir merdeka dan berani menyampaikan gagasan. Seno dapat ditemui di akun Facebook Seno Bagarkoro.

7 Suara Anak Ketujuh Penilaian Belajar Seno

***

Tujuh presentan, 3 Kategori Kegemaran, 2 Kategori Karya dan 2 Kategori Misi Sosial telah memberikan gambaran tentang cerahnya masa depan kehidupan bila kita memberi kepercayaan dan kesempatan pada anak-anak untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri. Berhenti melakukan penilaian belajar dengan cara dari masa lalu, lakukan penilaian belajar yang berpijak dari rasa percaya dan keyakinan pada anak-anak kita bisa berkontribusi pada kehidupan yang lebih baik.

Bila penilaian belajar  berupa pilihan ganda, anak-anak akan belajar mengisi pilihan ganda dengan benar. Bila penilaian belajar hanya mengukur aspek kognitif, anak-anak akan belajar menguatkan kemampuan kognitifnya. Bila penilaian belajar berupa presentasi ketekunannya, anak-anak akan belajar menekuni kegemaran dan menghargai proses belajarnya. Bila penilaian belajar menilai kontribusi pada masyarakat sesuai potensi diri, anak-anak akan belajar mengembangkan potensi diri agar bisa bermanfaat buat masyarakat. Bentuk penilaian belajar akan menentukan arah proses dan perilaku belajar anak. Itulah pentingnya Suara Anak sebagai alternatif penilaian belajar anak.

Suara Anak Ketujuh selesai digelar berkat kerja keras dari Relawa Suara Anak Surabaya sejak dua bulan terakhir, dukungan orangtua dan komunitas pendidikan, Pemerintah Kota Surabaya, donatur serta sponsor. Semoga dukungan semakin luas dan banyak sehingga Suara Anak dapat kembali diselenggarakan di Surabaya.

Bagaimana cara Ibu Bapak melakukan penilaian belajar pada anak Anda? 

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d