Mengapa Portofolio Bakat Anak itu Penting?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Bagaimana anak melihat proses perkembangan bakat yang ditekuninya?

“Anak saya jago gambar. Bulan lalu ia mengikuti lomba menggambar tingkat propinsi. Tiga bulan sebelumnya ia menembus kejuaraan menggambar tingkat kabupaten. Sebelum itu, ia sudah dua kali memenangkan lomba menggambar di klub menggambar yang diikutinya.”

Memang, salah satu cara termudah untuk memantau perkembangan bakat anak dengan mengikutkan mereka pada berbagai ajang terkait. Anak yang punya insting kuliner, diikutkan lomba memasak. Anak yang bakat menyanyi, diikutkan ajang olah vokal. Anak yang pandai berhitung dan menalar, diikutkan olimpiade sains. Simpel, dan semakin sering anak juara, orangtua menganggap hal tersebut tanda bahwa bakat anak berkembang.

Lalu, kalau anak nggak berhasil meraih juara, tanda apa dong?

portofolio bakat anak

 

Itulah sebabnya, sebenarnya perkembangan bakat anak tidak begitu saja dapat diamati dengan seberapa banyak anak memenangkan perlombaan. Mengikuti perlombaan maupun ajang sejenis memang bisa menjadi salah satu upaya mengembangkan bakat sekaligus menampilkan hasil belajar anak. Namun kalau jika peringkat atau piala menjadi indikator utama berkembangnya bakat anak, apalagi jadi tuntutan orangtua, bisa jadi anak malah tertekan dan kehilangan tujuan belajarnya.

Yang terutama sebenarnya adalah, tidak hanya orangtua, namun anak juga perlu menyadari bagaimana bakatnya berkembang, seiring proses belajar dan latihan terkait bidang bakat yang ditekuninya. Saat anak menyadari proses, cara, dan tujuan belajar yang bermakna baginya, anak akan berefleksi, mempelajari dirinya sendiri.

Nah, cara terbaik agar baik orangtua maupun anak dapat sama-sama mengamati bagaimana bakat anak berkembang, adalah dengan menggunakan portofolio bakat anak. Apa dan mengapa portofolio?

Portofolio bakat anak secara sederhana berarti mendokumentasikan karya, hasil belajar anak. Hal ini bisa dilakukan anak sendiri maupun dengan bantuan orangtua. Dokumentasi ini, baik dalam bentuk fisik maupun digital, bertujuan agar anak bisa membandingkan proses belajarnya dari satu waktu ke waktu yang lain. Termasuk, portofolio memberi kesempatan anak untuk mengamati bagaimana sebuah ide bisa dieksekusi menjadi karya, termasuk proses revisinya.

Hasil belajar anak pada suatu bidang, misalnya memasak, bisa jadi berbeda saat ia mulai belajar dengan tiga bulan ia telah belajar. Di minggu pertama belajar memasak, anak berhasil membuat telur mata sapi dengan matang. Di minggu kedua, anak ternyata bisa membuat telur mata sapi setengah matang. Hasil masakannya difoto untuk memperlihatkan perbedaan telur yang matang dan setengah matang.

Dari kedua foto tersebut, anak bisa diajak mengobrol bagaimana misalnya, waktu memasak berpengaruh terhadap tingkat kematangan. Bahkan, anak bisa belajar bahwa selera orang berbeda-beda, termasuk bahwa ayahnya lebih suka telur yang matang, sedangkan ibunya lebih suka telur mata sapi yang dimasak setengah matang. Anak tak hanya belajar teknik memasak, namun memahami kesukaan orang lain.

Seperti yang telah dituliskan Bukik Setiawan di buku Anak Bukan Kertas Kosong, dan yang telah saya bahas sebelumnya, blog (atau buku harian, tergantung preferensi anak) dapat digunakan sebagai portofolio bakat anak. Anak dapat menuliskan pengalamannya dalam berkarya. Damai misalnya, telah beberapa kali membahas perkembangan kegiatan menulisnya di blog, sebagai bentuk portofolio bakat. Bahkan dalam kejuaraan pun, anak tak sekadar juara atau tidak, namun bisa bertanya: apakah dia puas dengan hasil karyanya? Apakah ada kesulitan berbeda yang tidak dihadapi anak dalam perlombaan sebelumnya?

Oleh sebab itu, portofolio bakat anak bukan sekadar kumpulan gambar, tulisan, maupun video yang dibendel menjadi satu paket dan dijadikan pajangan. Di sini, Ayah Ibu perlu menggunakan portofolio tersebut untuk mengobrol dengan anak tentang kemajuan perkembangan bakatnya. Apakah anak perlu mengikuti lomba dalam waktu dekat? Apakah ia justru butuh kegiatan yang berbeda, semisal magang? Atau justru menurunkan tingkat kesulitan? Dengan demikian, anak belajar mendalam, dan saat berhasil mempelajari diri sendiri, ia tahu kebutuhan untuk belajar berkelanjutan.

Apa jenis pertanyaan yang diajukan Ayah Ibu saat membahas portofolio bakat bersama anak?

 

Foto oleh COD Newsroom

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d
Eda Soetjipto : tips yang menarik dan baik utk dibagikan . saya ibu 3 anak alhamdulillah kami berlima sangat gemar membaca. ye