Pilihan Sekolah untuk Anak Zaman Now yang Berebut Pekerjaan dengan Robot

Diposting oleh:

Bukan di masa depan, bukan besok, tapi sekarang robot telah mulai mengambil alih pekerjaan manusia. Ketika Anak Zaman Now harus berebut pekerjaan dengan robot, apa pilihan sekolah yang tepat buat mereka? 

Saat pertama kali mesin cetak Gutenberg berkembang di Eropa pada abad 15, beberapa profesi diprediksi tidak lagi relevan pada zaman itu. Salah satunya adalah profesi scribe (penyalin naskah). Sebelum mesin cetak dikembangkan, naskah-naskah atau manuskrip-manuskrip pengetahuan ataupun informasi pemerintahan dan keagamaan disebarkan dengan menyalinnya secara manual. Seorang penyalin naskah menjadi profesi kelas menengah yang dihargai di berbagai negara.

Dengan berkembangnya mesin cetak yang mampu menyalin sebuah naskah dalam waktu singkat dan masif, industri percetakan mulai berkembang. Penyalin naskah menapaki jurang pensiun yang tak disangka. Profesi di bidang percetakan menjadi idola baru. Profesi yang membentang mulai dari penyunting, desainer sampai pengatur tinta.

Pada generasi berikut, tepatnya tiga sampai empat abad setelahnya, industri media cetak dan jurnalisme giliran menggeliat. Orang-orang berebut menjadi jurnalis demi berturut serta dalam revolusi industri sekaligus mengharapkan penghidupan yang layak.

Abad 20 menjadi masa media cetak berjaya. Muara dari semua informasi bersaing dengan media elektronik, Radio dan Televisi. Namun, hanya berselang satu abad, internet berkembang. Satu per satu media cetak mulai tumbang. Kabar terbaru Majalah Roling Stone Indonesia tutup edisi pada tanggal 1 Januari 2018 lalu. Kecuali mereka yang mampu beradaptasi di dunia online, seluruh media cetak tinggal menunggu waktu.

Dalam laporannya yang bertajuk Perspective from the Global Entertainment & Media Outlook 2017, konsultan bisnis PriceWaterhouseCooper (PWC) memprediksi pertumbuhan koran dalam lima tahun ke depan minus 8,3 persen, diiringi turunnya majalah sebesar minus 6 persen. Berbanding terbalik dengan angka pertumbuhan media berbasis internet sebesar 0,5 sampai 6 persen. Pertumbuhan tersebut didominasi oleh penggunaan video internet sebesar 6%.

Dalam laporan yang sama, mengutip hasil riset Deborah Bothun dan David Lancefield, Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence/AI) akan menjadi daya dorong utama bagi industri media maupun industri lain untuk mempertahankan produktivitas sekaligus merangsang inovasi dan kreativitas. Kecerdasan buatan yang pada intinya adalah sebuah inovasi teknologi guna menggantikan peran manusia dalam pekerjaan kompleks, bagai mesin cetak Gutenberg di mata para penyalin naskah. Keniscayaan perubahan yang sudah dekat.

Dapat dipastikan profesi yang saat ini masih eksis akan tergantikan dengan peran kecerdasan buatan di segala bidang. Bahkan proses tersebut sudah berlangsung saat ini. Tahukah anda, salah satu rubrik olahraga di Detik.com tidak ditulis oleh manusia? Rubrik ini ditulis menggunakan kecerdasan buatan yang didesain sesuai dengan kebutuhan pembaca.

Kemampuan kecerdasan buatan yang sedemikian tinggi, mengingatkan kita pada film-film Sci-fi dimana peran manusia seluruhnya diganti oleh ROBOT. Rugi kita menghabiskan waktu mengejar karier yang sejatinya telah dialihkan kepada mesin, kepada robot. Terlebih lagi bila mengejar karier untuk Anak Zaman Now.

Di Jenewa, Swiss, pada tanggal 18 Januari 2016, bertajuk The Fourth Industrial Revolution, konferensi World Economic Forum menyoroti ancaman disrupsi bukan hanya terhadap bisnis model, melainkan juga terhadap pasar tenaga kerja. Melalui riset yang ditujukan kepada Direktur HR dan pimpinan organisasi di negara-negara yang menguasai sekitar 65% pasar tenaga kerja di seluruh dunia, didapatkan laporan dalam waktu 5 tahun sekitar tujuh koma satu juta pekerja akan kehilangan pekerjaannya. Jumlah itu kebanyaknya didominasi oleh pekerja kerah putih dan staf administratif, melalui program otomatisasi. Lalu berapa banyak jumlah pekerjaan Anak Zaman Now yang akan hilang?

Bagaimanapun juga, kita masih berada di zaman transisi dimana teknologi masih berkelindan dengan tradisi okupasional zaman lalu. Namun, tahukah apa yang akan terjadi dengan Anak Zaman Now di masa depan? Benarkah kita sebagai orang tua telah menyiapkan Anak Zaman Now berebut pekerjaan dengan Robot? Sudahkah kita bergegas ketika profesi saat ini tidak lagi dapat diharapkan di masa mendatang?

Semua kembali kepada pendidikan!

Mungkin ini saat yang tepat memikir ulang pandangan kita terhadap pendidikan anak, terutama pendidikan Anak Zaman Now. Bahwasanya model pendidikan yang telah kita yakini sepanjang hidup sudah terlalu purba bagi anak. Meminta sekolah melanjutkan model pendidikan purba, sama dengan menjerumuskan anak ke palung terdalam menjauhi dunianya. Mengharap anak mencapai prestasi akademis sudah tidak lagi relevan dengan karirnya kelak.

Kita butuh pendidikan yang menyiapkan Anak Zaman Now menjadi berdaya di dunia, bukan menjadi macan kelas dengan segala hapalan dan nilai sempurna di rapor dan ijazah (Baca: Lima Salah Kaprah Sekolah Favorit). Kita butuh sekolah menjadi mitra peradaban, bukan membangun tradisi pre-historis di tengah perubahan.

Sebagai orang tua, kita tidak serta-merta mengampu kekuatan untuk mengubah sistem pendidikan secara keseluruhan. Pilihan untuk menemukan sekolah sebagai mitra yang tepat dalam mendidik anak lebih mendesak saat ini. Detik waktu tidak dapat ditunda demi menunggu sistem pendidikan sempurna diperbaiki. Memilih sekolah yang tepat adalah cara paling mungkin dilakukan untuk masa depan Anak Zaman Now.

Ketika seluruh dunia mengalami perubahan cepat, sekolah dituntut mampu menumbuhkan cara belajar yang merdeka bagi anak. Merdeka dari segala kompetisi dengan sesama pelajar. Merdeka dari tuntutan akademis yang mengerdilkan. Merdeka untuk mencapai tujuan belajar dengan cara yang memanusiakan.

Mengapa harus memanusiakan, karena kita tidak bisa lagi menggunakan perspektif mesin seperti di zaman industri. Masih menggunakan perspektif lama berarti menyerahkan diri untuk tergilas revolusi kecerdasan buatan dan teman-teman robotnya dengan senjata “otomatisasi”-nya.

pilihan sekolah anak zaman now

Satu hal yang juga disoroti oleh para pimpinan SDM di dalam forum ekonomi dunia 2016 lalu, bahwa dunia SDM masih belum mampu mengidentifikasi detil ancaman di depan. Proses otomatisasi hanya satu hal dari sekian banyak ancaman di belakangnya. Oleh karenanya, mereka merekomendasikan terciptanya kolaborasi antar berbagai pihak ketimbang saling berkompetisi. Ibarat menapaki gua yang gelap-gulita, kita perlu saling bergenggam tangan daripada terpisah jalan. Sekolah yang menonjolkan kompetisi sudah tidak relevan lagi bagi pendidikan anak zaman now.

Terakhir, biarkan sekolah menjadi tempat berkreasi, berinovasi dan berkolaborasi, ketimbang menampilkannya sebagai lintasan adu balap dengan garis akhir tanpa makna. Sungguh prestasi akademis pada akhirnya akan berakhir di tumpukan map semata. Sedang tujuan pendidikan bukanlah mencapai prestasi akademis. Karena kita bukan sedang membuat robot. Kita melampauinya.

Sumber foto: Flickr

Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now!


panduan memilih sekolah untuk anak zaman now

Leave a Reply

Buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now
 icon
 icon
rss