Surat Direktur HRD kepada Kepala Sekolah Zaman Now

Diposting oleh:

Banyak orangtua membayangkan nilai tinggi dari sekolah favorit lebih menjamin anaknya diterima kerja. Tapi di zaman yang berubah, anak zaman now akan menghadapi tantangan yang berbeda. Simak surat dan video Direktur HRD ini 

“Mulai sekarang, kami tidak lagi memakai nilai akademis untuk menyeleksi karyawan”

Dengan hormat,

Ibu-Bapak kepala sekolah yang baik, sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas dedikasi yang tinggi terhadap tercapainya tujuan pendidikan bagi seluruh anak bangsa. Tidak lupa saya sampaikan adalah tugas kita bersama untuk saling menyebar maksud baik guna menempatkan tujuan pendidikan itu ke arah yang lebih baik.

Bersama kita ketahui, anak didik kita akan menampilkan hasil pembelajaran yang dijalaninya setelah lepas dari sekolah. Mereka tampil dan berkarya dalam dunia yang begitu nyata. Begitu penuh dengan tantangan, sehingga dalam dugaan saya, Ibu dan Bapak pasti berupaya keras meningkatkan kesiapan murid dalam menghadapi tantangan dunia di luar sekolah.

Selama bertahun-tahun, kami, praktisi di bidang sumber daya manusia menggunakan standar yang dibuat sekolah dalam menyeleksi karyawan. Standar itu bernama prestasi akademis. Maka, setumpuk lamaran yang mampir di meja saya begitu saja berkurang dengan cepat setelah saya gerakan tongkat pemindai nilai ijazah untuk menyortirnya. Murid dengan nilai tinggi dengan mudah diterima organisasi. Sementara penerima nilai rendah akan mengais rejeki di “dunia lain” kalau tidak mendapat pekerjaan berpenghasilan rendah.

 

Namun, zaman berubah. Kenyataan membuka jendela keyakinan kami. Tidak selamanya murid berprestasi ini mampu menjalankan tanggung-jawab pekerjaannya dengan baik. Seakan seluruh energi mereka habis oleh Ujian Nasional, murid berprestasi gagal memompa semangat menghadapi ujian karier. Hampir dari setengah kepayahan beradaptasi dengan lingkungan baru. Sebagian lain bermasalah dengan sikap kerja dan kerjasama satu dengan yang lain.

Bertemu dengan dunia kerja yang begitu dinamis, mata mereka mengisyaratkan kekosongan. Bagai menduga, apakah ini dunia yang sama. Dunia dimana aku dapat bersaing saat ujian tulis maupun praktik. Dunia dimana jika aku patuh, maka aku bisa cepat pulang. Dunia dimana aku punya waktu sebulan untuk berlatih menghafal rumus, urutan tata surya maupun tanggal persis suatu peristiwa sejarah. Tidak. Ini dunia yang betul-betul asing.

Begitu banyak jaring yang harus dirajut, begitulah cara kami bekerja. Bukan sekedar menyulam dengan pola yang teratur. Berkomunikasi efektif itu modalnya. Bukan sekedar ikut perintah. 4 dari 5 pimpinan kami di industri menginginkan lulusan yang mampu berkomunikasi dengan baik. Alih-alih sekedar menjawab pertanyaan, kami mau orang-orang yang mampu merapal pertanyaan secara efektif, lengkap dengan argumen logis dan berbasis data.

Bersinggungan dengan kompetisi di dunia kerja, orang pertama di garis ‘finish’ tidak menyilaukan kami. Kami butuh orang pertama di garis ‘start’. Seseorang yang memulai. Seseorang yang inovatif. Penuh gairah membawa kebaruan. Bukan pelintas tercepat di atas garis pacu. Kami butuh pencipta garis lintasan baru.

Seperti diketahui, dunia kita berubah sangat cepat. Belum ajeg kaki kita berdiri, sudah dipaksa melompat kembali. Beruntung kita masih terpapar sentuhan peradaban masa silam. Saat digitalisasi masih seumur jagung. Saat internet masih belajar merangkak. Tantangan dunia hiperrealitas masih longgar terasa. Tidak begitu dengan anak didik kita.

Mereka yang saat ini berada di bawah naungan Ibu dan Bapak, akan mendatangi suatu zaman yang benar-benar baru. Anak Zaman Now akan hidup di zaman next. Tantangan zaman now kelak tak lagi relevan di masa mendatang. Kompleksitas kehidupan berpilin dari kutub ke kutub. Revolusi Industri 4.0 menjadi nyata. Bisnis model industri mensyaratkan penggunaan sumber daya manusia seminimal mungkin. Pilihan karier sebagai karyawan, hanya terbatas pada siapa yang paling cepat belajar dan beradaptasi dengan teknologi yang ada. Peradaban non-digital menjadi barang antik.

Dengan perubahan itu, apakah tantangan karier anak kita sama dengan kita? Pun juga apakah tujuan pendidikan hanya terbatas pada pencapaian prestasi akademis? Kedua pertanyaan itu jawabnya tidak.

Kami khawatir  membayangkan anak didik kita berdiri di tengah pusaran hidup berbekal keterampilan yang tidak lagi dibutuhkan pada zamannya. Pakar dan analis ketenagakerjaaan masa depan menyampaikan, keterampilan sosial seperti kecerdasan emosi, persuasi dan keterampilan mengajar lebih dibutuhkan alih-alih keterampilan teknis spesifik. Selebihnya, kemampuan mempelajari keterampilan baru menentukan keberhasilan seseorang mencapai kariernya maupun menghadapi gelombang disrupsi lapangan kerja.

Kabar buruknya Ibu dan Bapak yang saya cintai; keterampilan tersebut tidak dapat diajarkan dengan cara pendidikan menanamkan yang berorientasi pada nilai akademik. Membuat anak cerdas secara emosi berbanding terbalik dengan tujuan membuat anak patuh. Mengajarkan persuasi tidak berhasil dengan cara memaksa dan mengancam. Keterampilan mengajar bukan juga dihasilkan dari cara mendidik berbekal hukuman. Puncaknya, kemampuan belajar hal baru tidak akan terasah jika anak tidak merdeka belajar.

Itu mengapa, surat ini begitu mendesak saya tulis. Bukan saja untuk menakuti, melainkan juga ingin mengajak bersama menatap ke depan. Tinggalkan segera cara-cara lama. Setidaknya, mulai ubah cara berpikir kita dan penuhi dengan harapan. Pendidikan untuk murid tidak hanya sebatas legitimasi eksistensi sekolah. Ada niat luhur dari seluruh pendidik. Bukan sekedar menyelamatkan tujuan pendidikan. Mari kita selamatkan peradaban.

Terima kasih telah menyediakan waktu untuk membaca surat ini

 

Hormat saya,

Direktur HRD


panduan memilih sekolah untuk anak zaman now

Leave a Reply

Buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now
 icon
 icon
rss
doytchmagient : menarik. di sklh gw, bnyk anak yg gila bersaing. knp gw sbt gila? krn saking sukanya bersaing, mrk smpe ga lg
Rusj : Wow...trimakasih sudah sharing. Experience seperti ini sangat dibutuhkan didaerah2 terpencil seperti di papua.
Ida Tungga : Bagaimana cara mendapatkan buku Belajar dari Ki Hadjar?