Mengapa Kita tidak bisa Berhenti Belajar?

Diposting oleh:

Bakat Anak – Apakah Ayah Ibu melihat anaknya malas belajar?

Tidak hanya anak-anak yang lebih kecil saja yang mungkin malas belajar. Mereka yang sudah mahasiswa pun, bahkan orang dewasa seperti kita, seringkali malas belajar. Masalahnya beragam: pertama, terpaksa belajar. Kemampuan alami anak sebagai pembelajar seringkali redup saat berhadapan dengan sekolah dan orang dewasa. Belajar menjadi kewajiban, bukannya kebutuhan. Kedua, merasa tidak perlu belajar. Ini seringkali menjadi penyakit orang dewasa saat mengikuti pelatihan, karena merasa tingkat kemampuannya sekarang sudah cukup untuk menyelesaikan pekerjaannya.

Saat seseorang terpaksa belajar, atau merasa tidak perlu belajar, perlahan namun pasti ia akan berhenti belajar.

bakat anak belajar 3

 

Namun, ada pemandangan berbeda yang bisa kita saksikan di Swedia. Dilansir dari The Atlantic, enam puluh enam persen warga Swedia dalam rentang usia 25-64 tahun belajar di sekolah tinggi, atau mengikuti berbagai program pendidikan non-formal: kelas daring (online), les privat, maupun seminar. Tentu saja, orang dewasa yang memilih untuk belajar lagi, memiliki berbagai jaminan pemerintah, baik untuk urusan pekerjaan (bisa cuti tak berbayar), biaya pendidikan, mendapat subsidi biaya pengasuhan anak (karena mereka tidak mendapat penghasilan), dan lain-lain.

Meskipun jaminan-jaminan di atas berpengaruh, terdapat faktor kultural yang lebih kuat, yang membuat orang-orang dewasa ini tidak malu belajar sekelas dengan mahasiswa pada umumnya. Ada sebuah nilai budaya yang dipercaya di Swedia, bahwa kita tidak pernah terlalu tua untuk belajar. Nilai ini membuat setiap orang tak akan putus asa saat ia merasa harus belajar lagi, bahkan saat harus banting setir karena arah karier barunya berbeda dengan apa yang telah ditekuninya selama ini.

Carl Andrén Lundahl (31 tahun), sedang belajar menjadi dokter setelah karier sebagai pilot yang dijalani sebelumnya tidak berjalan mulus. “Saat itu saya benar-benar lelah, sehingga saya langsung melihat-lihat katalog sekolah tinggi, mencari hal baru yang ingin saya pelajari.” Bukik Setiawan sendiri menegaskan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong: Karier bukanlah tanda titik, melainkan garis yang menggambarkan perjalanan seseorang sepanjang hidup. Selalu ada kesempatan belajar buat siapa saja yang ingin berubah.

Pesannya jelas: bagi yang mau, selalu ada kesempatan untuk terus belajar. Anak mungkin saat ini sedang mengalami masa-masa terpaksa belajar, atau bahkan kita sebagai orangtua sendiri masih merasa tidak perlu belajar – yang paling dekat, belajar mendidik dan membantu mengembangkan bakat anak. Itulah sebabnya, dua hal ini perlu kita kembalikan dalam diri kita dan anak-anak kita: kesadaran untuk belajar dan semangat belajar.

Kesadaran untuk belajar berarti melihat belajar sebagai suatu kebutuhan yang spesifik, bukan kebutuhan yang buram atau kabur, seperti sekadar naik kelas atau mendapatkan ijazah. Anak-anak seperti Thomas Suarez, punya kebutuhan berbagi kesenangan mengembangkan aplikasi ke teman-temannya. Oleh karena itu ia terus belajar pemrograman. Dalam kesadaran untuk belajar, terdapat misi hidup – sesederhana apapun – yang bisa kita raih. Dengan misi hidup, belajar menjadi bermakna dan bertujuan.

Semangat belajar berarti gairah untuk meningkatkan keahlian dalam bidang bakat yang dipilih dan ditekuni. Seperti manusia pertama yang melihat api, atau seperti anak kecil yang menemukan mainan barunya, ada rasa ingin tahu di mata mereka. Perasaan tertantang untuk mencoba, menggali, dan mendalami hal baru yang ditemukannya. Hal baru tersebut menjadi minat, menjadi kegemaran, dan kemudian menjadi keahlian.

Jika Ayah Ibu mendapati anak malas dan enggan belajar, ajak mereka mengobrol, barangkali mereka ingin belajar sesuatu yang berbeda, atau belajar sesuatu dengan cara yang berbeda. Mengubah kesan yang keliru tentang belajar, misalnya, dapat membuat seorang anak yang benci matematika menjadi menyukai pelajaran tersebut. Beri kesempatan anak untuk belajar berbagai macam hal, karena saat anak bebas memilih, anak akan belajar memilih hal yang paling dicintainya. Lalu seperti halnya Tanishq Abraham, anak-anak kita menjadi tidak bisa berhenti belajar.

Apa tips Ayah Ibu menumbuhkan dorongan belajar dalam diri anak?

 

Foto oleh Got Credit

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d