Tiga Alasan Kenapa Wajib Membaca Buku Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now

Diposting oleh:

Sejumlah pembaca, menuliskan komentar dan ulasan mereka tentang buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now. Ini adalah salah satu ulasan pembaca yang bernas dan menarik disimak. Inilah tiga alasannya 
Anda tahu efifani? Bermaksud mengambil cemilan di dapur, tapi masuknya ke kamar mandi atau bisa juga dibalik: niatnya ke kamar mandi, tapi bergerilya di dapur mengoyak makanan yang tersisa. Tetiba penuh semangat, mengambil selembar kertas kemudian menulis: “Hanya guru yang belajar yang pantas untuk mengajar. Mulai malam ini, saya akan berubah”. Keesokan harinya, jangankan semangat, lembaran kertas berisi tulisan semangat lupa ditaruh di mana. Begitulah efifani bekerja pada saya.

Banyak peristiwa yang mengantar saya mengalami pengalaman-pengalaman seperti di atas. Minggu ini, dua karya orang lain berhasil menyiksa saya tidak tidur semalaman. Pertama adalah film Accepted, rilis tahun 2006, ditulis Adam Cooper dkk. Karya kedua adalah buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now yang ditulis kawan saya, Bukik Setiawan dkk.

Jika film Accepted, bisa anda nonton gratis di situs tertentu, tidak dengan buku kawan saya itu. Ini buku mahal. Ya, buku mahal. Dibutuhkan kesadaran penuh untuk membelinya, tidak bisa sekedar iseng apalagi berharap sebagai hadiah. Saya sering berbagi bacaan Murakami, Kawabata, Nicolai Gogol, atau mungkin Hemingway dengan beberapa teman tapi tidak dengan buku ini. Maaf. Saya tidak bisa meminjamkannya dengan alasan apapun.


Sejak foto buku ini saya pajang di status WA, saya belajar ada tiga model percakapan tentang buku ini.

Model pertama:

“Menk, buku yang di statusmu itu beli di mana? Saya sudah tawaf di toko buku gra**di* dan tidak juga saya temukan.”

“Ah masa sih. Coba cari lagi.”

“Tidak ada Menk. Tidak ada buku begituan. Kalau buku trik lulus jadi pegawai negeri sipil sih banyak.”

“Wkwkwkwk.”

“Saya dikerjai lagi. So, pesan di mana? Toko online?”

“Emang krim pemutih, bisa pesan di mana-mana?”

“Hahahah. Saya serius menk, pesan di manaki?”

“Pesan di saya juga boleh. Tapi tidak janji ya. Saya berkabar.”

“Siappppp.”

Model kedua:

“Alhamdulilah, bukunya sudah terbit. Berbagi ya?”

“Siapppp.”

“Temu pendidik yang akan datang khusus bahas ini ya?”

“Siapppp”, jawabku memperpendek percakapan.

Model ketiga tidak kalah menarik.

“Asyik. Tawwa, adami bukunya.”

Saya hanya membalas dengan emoji senyum kelihatan sedikit giginya. Saya amat mafhum dengan kawan-kawan saya, termasuk yang menuliskan pesan di atas. Tapi sekali lagi, buku ini tidak untuk dipinjamkan. Jadi maaf bro Awal Dicokonuri.

Kenapa buku ini tidak dipinjamkan?

Begini:

Beberapa bulan yang lalu, ‘24 jam Bersama Gaspar’ dan ‘Bajingan yang Menyenangkan’ belum juga kembali ke pemiliknya yang sah. Keduanya buku lama sih, tapi saya amat sayang dengan para penulisnya. Saya belajar dari pengalaman, buku dari penulis yang saya sayangi, tidak untuk dipinjamkan.

Alasan lain? Selain mahal, buku ini bukan milik saya. Buku ini milik Ibu Adelia Yusdianto, penggiat Komunitas Guru Belajar Makassar. 🤣🤣

—–

Kita kembali ke soal efifani saya malam ini: Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now. Ada tiga alasan kenapa buku ini penting untuk dibaca, diresapi kemudian diamalkan. Ada baiknya anda memilikinya dulu sebelum membacanya.

Pertama, buku ini memiliki daya ‘rusak’ yang besar. Jika anda baca sampai tuntas maka akan berpotensi merusak jam tidur malam Anda.

Untuk menuntaskan isi bukunya hanya butuh waktu dua-tiga jam. Tapi waktu yang dibutuhkan untuk menalar, meresapi, menimbang kembali pengalaman butuh lima-sepuluh jam. Saya mulai membaca jam 9 malam dan selesai kurang lebih pukul 11 malam. Tapi menimbang cerita Zhifah di sekolahnya kemudian membandingkan isi buku ini, membuat saya tidak tidur sampai subuh.

“Kenapa sih mesti pulang cepat?”, tanyaku.

“Tidak mauma terlambat ayah. Tidak mauka dikasih jalan jongkok lagi di sekolah”, jawabnya singkat.

Selain merusak jam tidur, buku ini juga berpotensi merusak ‘keyakinan’. Lho, kenapa keyakinan? Saya kembali memikirkan ulang segala bentuk kemapanan baik di lingkungan rumah maupun di sekolah. Ternyata selama ini, saya memelihara kesalahan demi kesalahan. Saya kutip pengalaman para penulis yang kemudian mereka tulis kembali di pengantarnya:

Titik pusat sekolah terbaik adalah ingin tampil di panggung, menjadi sorotan banyak kepentingan. Visi membuat sekolah berusaha keras mencapai kriteria dan standar yang ditetapkan pihak lain agar diakui sebagai sekolah terbaik. Fokusnya adalah tuntutan eksternal. Kebutuhan anak dipenuhi sejauh menjadi kriteria dari lembaga eksternal tersebut. Akibatnya jelas, kebutuhan anak kadang diabaikan karena sekolah disibukkan memenuhi tuntutan menjadi sekolah terbaik. Alih-alih membangun relasi positif, sekolah cenderung menegakkan aturan dan diisplin yang ketat. Sekolah menuntut anak-anak patuh dan tertib. Tercipta relasi sekolah dan anak yang tidak kondusif terbentuknya kegemaran belajar. Belajar menjadi paksaan.

Kedua, buku memilih sekolah ini akan menjadikan Anda berdaya. Jika anda adalah orangtua, maka dengarlah keresahan para penulis buku

“Kami percaya, orangtua adalah komunitas yang punya pengaruh besar dalam pendidikan anak, tapi kadang diabaikan perannya. Kami yang juga orangtua ingin mengajak semua orangtua untuk memgambil peran dalam melakukan perubahan pendidikan. Percayalah, diakui atau tidak, pandangan setiap orangtua dipertimbangkan dalam pengambilan kebijakan di level kelas, sekolah, daerah maupun nasional. Pada level sekolah, keputusan orangtua bisa mempengaruhi arah kebijakan sekolah. Tanpa murid, sekolah akan tutup. Bila kita sebagai orangtua dapat mengubah sikap kita maka perubahan akan berpengaruh pada sekolah dan pengambil kebijakan pendidikan”. (Baca lengkapnya di: Mengapa Sekolah Terbaik tidak Baik untuk Anak)

Jika Anda sebagai guru, buku ini akan mengubah cara pandang kita. Kita para guru amat paham, sangat paham bahwa zaman berubah, anak-anak juga turut berubah. Anak-anak tumbuh dengan keunikannya sendiri-sendiri, kemudian akan memilih jenis pekerjaan yang berbeda dengan orangtuanya, berbeda cara pandang dengan gurunya, tapi kenapa cara mengajar kita para guru tidak berubah?

Pada sisi lain, masih banyak lakon kita tak ubahnya sebagai Guy dalam film The Croods. Betapa membosankannya menjalani kehidupan yang begitu-begitu saja. Berburu makanan, kenyang, bercerita masa lalu kemudian tertidur dan keesokan harinya masih menemukan kenyataan yang sama. Mengajar pun begitu, datang, mengisi daftar hadir, masuk kelas, menyajikan materi, menilai kemampuan anak kemudian pulang.

Kata Guy, sang Ayah, alam amat kejam dan keras. Anak-anak butuh dilindungi, dikendalikan untuk bertahan hidup. Belajar dari pengalamannya, Guy bersama keluarganya merasa aman bersembunyi di gua yang gelap.

“Rasa ingin tahu adalah pembunuh paling besar. Ingatlah itu Eep”, kata Guy pada putrinya.

Tapi Guy salah. Salah besar. Rasa ingin tahu tidak boleh disembunyikan. Pertanyaan kemerdekaan Eep: Apa maksud semua ini? Untuk apa kita melakukan itu? Semua pertanyaan-pertanyaan nakal ini tidak mampu dijawab oleh Guy. Tanpa disadarinya ketidaktahuan Guy justru akan membunuhnya dikemudian hari. Berhubungan dengan dunia luar adalah keniscayaan, pengalaman unik masing-masing individu mesti diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang.

Dulu, di kelas, saya amat nyaman sebagai Guy. Setiap rasa ingin tahu yang muncul adalah bencana. Perubahan terhadap aturan-aturan warisan pengalaman adalah kepunahan. Sementara, setiap hari saya berhadapan dengan Sandy, Ugga, Eep, Grug atau Thunk yang punya perpektif sendiri-sendiri, ide sendiri-sendiri, cara berpikir sendiri-sendiri. Hari ini, saya mengajak kawan-kawan guru untuk keluar sebagai Guy.

Ketiga, buku ini membawa kita dari alam yang gelap gulita menuju alam yang terang benderang.

Ya, percayalah, buku ini akan memandu keluar dari salah kapra bagaimana memperlakukan anak-anak kita. Apa saja isinya? Saya hanya menuliskan alurnya saja dimulai dari bagaimana memahami anak zaman now, memahami cara belajar zaman now, memahami sekolah anak zaman now, memilih sekolah untuk anak zaman now.

Muncul pertanyaan: bukan kami tidak mau memilih sekolah yang cocok dengan keunikan anak-anak kami, tapi kami tidak punya pilihan lain. Bapak/ibu, bersabarlah, buku ini sudah menyediakan jawabannya.

Pallangga, 30 April 2018


panduan memilih sekolah untuk anak zaman now

Leave a Reply

Buku Panduan Memilih Sekolah untuk Anak Zaman Now
 icon
 icon
rss