Ujian Nasional Bukan Resep Belajar Tanpa Beban

Diposting oleh:

Bakat Anak – “Anak saya kok sulit disuruh belajar? Padahal sudah gede, lho, sudah SMA.”

“Kalau anak saya nggak belajar, saya khawatir dia nanti nggak lulus.”

Saya yakin Ayah Ibu pasti pernah mendengar keluhan serupa, atau malah mengalaminya. Bahkan mungkin saat kita masih berstatus pelajar, orangtua kitalah yang mengeluhkan hal tersebut. Anak-anak SD mungkin menghabiskan sebagian waktunya untuk bermain. Mereka yang duduk di tingkat yang lebih tinggi memilih untuk nongkrong atau berkutat di ekstra kurikuler.

Begitu para pelajar melangkah ke ‘gerbang akhir’ pendidikan bernama Ujian Nasional, tak hanya para orangtua saja yang tergopoh-gopoh. Pihak sekolah dan para guru pun berbondong-bondong menyiapkan para pelajar dengan berbagai cara agar dapat keluar dari ‘gerbang akhir’ tersebut dengan langkah pasti, alias lulus. Para pelajar yang kemudian dinyatakan lulus Ujian Nasional mengadakan berbagai perayaan, sebagai simbol lepas dari beban. Beban bernama belajar untuk lulus Ujian Nasional.

Kini ‘gerbang akhir’ bernama Ujian Nasional tersebut mulai direposisi. Tahukah Ayah Ibu, bahwa sekarang Ujian Nasional tak lagi menjadi penentu kelulusan?

bakat anak ujian nasional

Seperti dilansir dari Harian Kompas 18 Januari silam, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan ingin mengubah pandangan tentang Ujian Nasional yang selama ini dianggap menakutkan. “Agar UN mengalami desakralisasi,” ujar mantan rektor Universitas Paramadina itu. Dimulai dari tahun ini, perlahan-lahan ‘gerbang akhir’ tersebut dipugar dan dicat ulang, sekaligus diubah fungsinya. Apakah yang terjadi kemudian saat anak tidak merasa terbeban untuk belajar?

Mengutip berita Tempo 16 Mei lalu, saat Ujian Nasional tak lagi menentukan kelulusan, rata-rata nilai pelajar SMA justru naik, dari tahun lalu sebesar 61 menjadi 61,29. Ini tentu tak sesuai perkiraan banyak orang dewasa yang berpendapat bahwa anak hanya akan belajar saat mendapat tekanan, termasuk beban bernama Ujian Nasional ini.

Tentu kita sendiri belum bisa melihat data ini sebagai hubungan sebab-akibat, karena wajah ‘gerbang akhir’ ini belum sepenuhnya berubah, dibuktikan dengan, misalnya saja, bocoran soal dan jawaban Ujian Nasional yang diunggah ke internet. Artinya, kecemasan terhadap Ujian Nasional masih kental dalam benak anak-anak kita, bahkan orang dewasa sekalipun.

Namun pernahkah Ayah Ibu mengamati saat-saat di mana anak belajar tanpa rasa takut dan cemas? Coba ingat-ingat lagi saat anak Ayah Ibu menekuni sesuatu, entah itu proyek sains, berlatih gitar, melibatkan diri dalam aktivitas ekstra kurikuler, ataupun lupa waktu dalam membaca buku. Mereka melakukan kegiatan-kegiatan tersebut tanpa disuruh, tanpa beban, dan tanpa iming-iming ganjaran maupun ancaman hukuman.

Apa resep anak Ayah Ibu melakukan hal tersebut tanpa beban? Seperti yang telah dibahas oleh Bukik Setiawan dalam buku Anak Bukan Kertas Kosong, iming-iming ganjaran maupun ancaman hukuman hanya efektif digunakan dalam aktivitas-aktivitas sederhana atau rutin. Mekanisme ini tidak akan membuat anak-anak kita menekuni suatu bidang, karena gemar dan tekun belajar – belajar apapun –  lahir dari dorongan dalam diri.

Itulah sebabnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kita tak lagi memfungsikan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan. Dengan alih fungsi ‘gerbang akhir’ tersebut, diharapkan para pelajar tak melihat belajar sebagai beban yang dipikul sampai Ujian Nasional berakhir, lalu dilepas begitu saja.

Tentu, perubahan fungsi Ujian Nasional tak serta-merta membuat anak-anak kita gemar belajar. Butuh upaya lebih besar agar gemar dan tekun belajar dapat tumbuh, dan ini tak lepas dari campur tangan keluarga. Ayah Ibu dapat mengobrol dengan anak mengenai aktivitas yang mereka tekuni – saat-saat anak menikmati belajar sebagai aktivitas yang intrinsik. Kunci belajar tanpa beban dapat ditemukan di sana.

Kalau selama ini para pelajar merayakan kelulusan sebagai simbol lepas dari beban, mari berharap ke depannya mereka merayakan kelulusan sebagai simbol bahwa mereka menikmati belajar sebagai dorongan dari dalam diri. Perayaan yang mencerminkan minat yang besar pada bidang yang mereka pilih dan tekuni.

Apa tips Ayah Ibu membantu anak menikmati belajar sebagai aktivitas menyenangkan?

 

Dokumentasi oleh Kemendikbud

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak

Leave a Reply

Toko Takita | Tempat Belanja Alat Belajar dan Bakat Anak
 icon
 icon
rss
Nur Masita : justru saya berfikir, apakah para pejabat yg rata2 sudah old dijaman now,pada jaman kanak2 nya dulu sering men
Muhammad Yaseer : Saya sudah lama merenungkan kondisi Pendidikan di Indonesia dibandingkan Finlandia. Menurut Saya kompetisi it
Sofi : Saya suka demgam kalimat klo kita bisa berkembang di lingkungan yg kooperatif drpd kompetitif, ini sy alami d